Pesta Pernikahan Adat

Ester Napitupulu | Sabtu, 16 April 2016 23:04:30

Ilustrasi Marunjuk/kapanlagi.com
Ilustrasi Marunjuk/kapanlagi.com

Pesta pernikahan adat Batak Toba dilakukan pada Hari H, setelah kedua mempelai dinikahkan secara agama di hari yang sama. Misalnya, pemberkatan di gereja atau ‘ijab kabul’ di hadapan penghulu.

Pesta ini biasa disebut oleh pihak laki-laki (paranak) sebagai unjuk atau marunjuk (upacara penyerahan mas kawin). Salah satu unsur penting dalam pesta ini adalah persembahan daging dan nasi oleh paranak kepada parboru (pihak perempuan).

Paranak menyebut upacara itu sebagai tanggo juhut (daging dipotong-potong). Sementara, parboru dan kerabatnya menyebutnya sebagai mangallang tuhor ni boru atau mangan juhut ni boru (makan boli ni boru atau makan daging boru, arti kiasan).

Lebih dari itu, pesta ini merupakan pentahbisan secara adat bahwa kedua mempelai sudah sah sebagai pasangan suami istri (pasutri) adat Batak. Dengan kata lain, keduanya dinyatakan berhak mendapat fasilitas atau mengambil posisi tertentu dalam prosesi adat Batak selanjutnya.

Perlu diketahui, pasutri yang belum ditahbiskan secara adat, tidak berhak tampil dalam prosesi adat Batak. Misalnya pesta pernikahan adat anak sendiri atau upacara kematian orang tua.

Mereka tidak bisa tampil di depan forum, sekalipun yang menggelar pesta adalah keluarga mereka sendiri. Bayangkan, bagaimana rasanya jika orangtua tidak boleh ikut duduk mendampingi anaknya di pelaminan, hanya karena si orangtua belum pernah menikah secara adat.