Marhusip

Ester Napitupulu | Sabtu, 16 April 2016 23:04:30

Ilustrasi Marhusip/nkrisatu.com
Ilustrasi Marhusip/nkrisatu.com

Setelah proses pertunangan, keluarga pihak laki-laki kemudian menugaskan beberapa utusannya (boru-nya) untuk menyampaikan pinangan dan membicarakan berapa kira-kira tuhor uang boli atau sinamot (mahar).

Zaman dulu, tuhor diberikan oleh paranak (pihak laki-laki) berupa hewan ternak, misalnya kerbau, lembu atau babi. Namun, setelah mengenal uang, tuhor kemudian digantikan oleh uang.

Nah, pembicaraan soal uang mahar yang awalnya dilakukan oleh kelompok boru dari kedua belah pihak inilah yang dinamakan marhusip (berbisik).

Disebut ‘berbisik’ karena memang pembicaraan tuhor ini belum boleh diketahui umum. Jadi harus berbisik (arti kiasan). 
(BACA: Berapa Sinamot untuk Boru Batak Super Cantik dan Pandai Masak?)

Saat pembicaraan, kelompok boru dari kedua belah pihak ini tidak menutup kemungkinan untuk saling tawar menawar tuhor dengan sejumlah pertimbangan. 

Hasil ‘berbisik’ dua pihak kelompok boru ini kemudian disampaikan pada hula-hulanya atau (keluarga) orangtua calon pengantin masing-masing. Jika belum ada kesepakatan, boru dari kedua belah pihak boleh ‘berbisik’ atau tawar menawar lagi, sampai terjadi kesepakatan soal tuhor.

Tidak hanya tuhor, dalam marhusip ini harus disepakati juga soal panjuhuti (daging untuk pesta), jumlah ulos yang akan diberikan pihak hula-hula, jumlah undangan kedua belah pihak, tempat pesta (namangalamani, hembangan amak), waktu pesta, dan hal-hal teknis lainnya.

Jika tuhor sudah disepakati kedua belah pihak, maka selanjutnya dipilih hari baik untuk melangsungkan pesta pernikahan. Nah, tuhor ini diterima pihak perempuan pada pesta pernikahan dan disaksikan oleh seluruh undangan.

Namun, tuhor kadang kala juga diberikan sebagian kepada pihak perempuan sebelum pesta. Tujuannya, untuk membantu segala keperluan calon mempelai perempuan sebelum hari H. Cara ini disebut menyampaikan bohi ni sinamot (sebagian dari tuhor/pendahuluan tuhor).