Pertunangan (Tanda Hata)

Ester Napitupulu | Sabtu, 16 April 2016 23:04:30

Ilustrasi Cincin Tunangan.
Ilustrasi Cincin Tunangan.

Proses pertunangan hampir selalu ada di setiap tahap pernikahan dalam adat manapun. Tak terkecuali dalam adat Batak Toba.

Pertunangan dilakukan halak hita saat lamaran sudah disampaikan pihak laki-laki dan disetujui pihak perempuan. Tunangan ini ditandai dengan tanda hata (pertukaran tanda/tanda janji lisan), atau disebut juga tanda burju (tanda kesungguhan).

Menurut ahli adat Batak Toba asal Belanda, JC Vergouwen, pertukaran tanda ini sering dilakukan di depan teman-teman kedua pasangan atau orang-orang yang lebih tua.

Pada proses ini, si pemuda biasanya menyampaikan benda kepada si gadis, seperti cincin atau sejumlah kecil uang sebagai tanda hata. Sebaliknya, si gadis biasanya memberikan selembar ulos yang nilainya sedikit di bawah barang yang diterimanya dari si pemuda.

“Makna pertukaran tanda ini adalah bahwa kedua muda-mudi ini memiliki maniop, yakni bukti yang bisa diraba dari ikrar yang mereka lakukan, dan pertanda kesetiaan untuk menjalankan apa yang sudah ditetapkan,” tulis Vergouwen dalam ‘Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba’ (1986).

Pertunangan yang sudah disertai tanda hata kebanyakan berujung pada pernikahan. Namun, pernikahan yang batal setelah pertunangan bukannya tidak pernah ada dalam adat Batak Toba.

Beberapa kasus pernah terjadi. Lalu bagaimana jika pernikahan batal setelah pertunangan? Klik di sini!