'Sinamot' Bukan Penghalang! Kecil atau Besar, Tetap Adat Batak...

Tansiswo Siagian | Rabu, 22 Februari 2017 09:02:55

Ilustrasi perkawinan Batak Toba/Adi
Ilustrasi perkawinan Batak Toba/Adi

Kiasan itu mengartikan, jika ekonominya kecil tidak mungkinlah mampu menanggung biaya yang besar untuk adat. Pengertian ini tidak hanya ditujukan kepada keadaan pihak wanita tetapi juga diarahkan kepada pihak pria.

Karena rasa cinta kasih antara pria dan wanita (togu marsihaholongan), maka kedua pihak haruslah berembuk secara terbuka dan pihak wanita juga harus dapat merasakan (mandodo) kondisi pihak pria, sehingga bisa mendapatkan jalan terbaik masalah adat yang akan dilaksanakan.

Dimana, pihak wanita tidak lagi menuntut sinamot/tuhor kepada pihak pria yang tidak sesuai dengan kemampuannya, serta tidak menuntut acara adat yang besar.

Dalam hal ini, pihak paranak harus pada posisi menyembah dan memohon (somba jala peak hatana) agar pihak wanita menyetujui permintaan paranak sesuai kemampuannya.

Jika pihak wanita sudah sepakat atas kondisi ini, maka pihak pria pun tidak bisa berharap apalagi meminta bawaan wanita seperti “pauseang” dan lainnya, kecuali pihak wanita memberinya secara ikhlas dan sukarela.

Jadi, “manggoli sinamot” dan acara adatnya dalam budaya Batak adalah sesuai dengan kemampuan kedua pihak. Dengan dasar mereka sudah teguh saling mencintai “togu marsihaholongan”, maka sekalipun ada perbedaan sosial yang satu dengan yang lain, kaya dan miskin, jika kedua pihak “paranak” dan “parboru” mengedepankan kasih “holong” maka subtansi perbedaan itu bisa dieliminir sehingga tidak sampai saling memalukan (marsipailaan).

Sebab, prinsip sahnya adat perkawinan orang Batak bukan pada besarnya “sinamot” dan banyaknya tamu yang menghadiri adat tersebut.

Lalu apa?