Seks di Luar Nikah Menurut Adat Batak Toba

Coky Simanjuntak | Senin, 18 April 2016 21:04:16

llustrasi seks di luar nikah/dailymail.co.uk
llustrasi seks di luar nikah/dailymail.co.uk

Di tengah derasnya pengaruh budaya Barat, seks di luar nikah seperti tidak lagi menjadi hal yang tabu bagi kebanyakan anak muda di Indonesia. Bahkan, beberapa dari mereka secara blak-blakan mengaku sudah berhubungan intim dengan pasangannya.

Seandainya ini terjadi pada anak muda Batak, pastilah ‘gempa bumi’ akan terjadi pada keluarga mereka. Apalagi, kalau keluarganya masih teguh memegang adat istiadat.

Bagi Orang Batak Toba, pasangan yang melakukan kencan gelap (marpadan-padan) sama dengan melacur (marmainan). Bahkan, mereka dicap sudah melakukan jalan sesat (marlangka pilit). (Vergouwen, 1986)

Kalau hubungan terlarang mereka sudah diketahui, maka keduanya harus segera menikah. Tapi sebelumnya pasangan muda-mudi ini juga diwajibkan untuk mengakui kesalahannya (manopotim) pada tetua dan orangtua kedua belah pihak.

Tidak hanya itu, mereka juga akan dihukum. Apa hukumannya? Semua ditentukan oleh keadaan dan hubungan mereka.

Namun yang jelas, kalau si pemuda tidak mau menikahi perempuan yang telah digaulinya atau keluarga pihak lelaki tidak menghendaki pernikahan, hukuman akan jadi lebih berat.

Si pemuda wajb membayar ongkos penyucian (pengurasion) dan harus menyenangkan hati keluarga perempuan (parboru) dengan memberikan uang, ternak, beras atau padi, atau barang-barang lainnya yang disebut piso.

Dalam adat Batak Toba, kumpul kebo (marbagas roha-roha) juga dilarang keras. Kalau ini terjadi, pasangan kumpul kebo itu dianggap telah melanggar adat (sala tu adat). Karenanya, mereka pantas dituntut dan dihukum oleh penguasa.

Di derah Padang Lawas, tindakan asusila model begini disebut manaporkon ogung ni raja (memecahkan gong raja). Artinya, pasangan telah menyalahi hukum masyarakat dan ketertiban umum, sehingga pantas dijatuhi hukuman adat.

Jadi, jangan pernah mencoba ya...