'Paulak Une', Tahapan Perkawinan Adat Batak yang Kehilangan Makna

Tansiswo Siagian | Minggu, 12 Maret 2017 08:03:16

Ilustrasi/adi
Ilustrasi/adi

Setiap adat Batak itu sesungguhnya memiliki makna yang sangat dalam. Semua itu dapat kita pahami jika mengetahui filosofi, histori atau latar belakang lahirnya adat tersebut.

Jika kita salah memahaminya maka adat itu akan kehilangan makna dan roh yang terkandung di dalamnya. Pemahaman yang salah seperti inilah sering muncul sehingga banyak orang Batak kurang merasakan makna adat itu dan melihatnya sebagai seremonial belaka.

Dari seluruh jenis adat Batak yang masih tetap eksis dilaksanakan salah satunya adalah adat Paulak Une. Pelaksanaan adat itu dewasa ini, selalu dipaketkan dalam adat “Ulaon sadari “ yang pelaksanaannya dicantolkan pada ujung acara perkawinan.

Secara harafiah, Paulak Une berarti mengembalikan (paulak) benda/jimat (une). Tetapi jika une diartikan kata sifat, maka paulak une adalah “mengembalikan yang kurang baik/une agar kembali baik/une”.

Maka perlu dikaji pengertian une itu lebih seksama. Sebab pengertian une yang berbeda akan menimbulkan pemahaman yang berbeda atas makna adat Paulak Une itu.

Jika une dipahami sebuah benda maka Paulak Une adalah mengembalikan sesuatu barang, tetapi jika une dipahami sebuah kata sifat, maka Paulak Une adalah adat mengembalikan sesuatu yang kurang baik dalam pelaksanaan adat sebelumnya agar kembali menjadi baik/une.

Pertama : jika kata une adalah sebuah benda/jimat yang dipakai gadis agar kesuciannya tidak terganggu sebelum dia menikah secara sah (seperti pemahaman sebagian orang Batak), maka setelah adat perkawinan dilaksanakan, pihak suami akan berangkat dengan istri mengembalikan jimat/une tersebut kepada pihak mertuanya.

Sekaligus memberi isyarat bahwa boru-nya masih une (suci/perawan). Inilah yang disebut Paulak Une versi pemahaman pertama.

Lalu bagaimana versi kedua?