Luhut Pandjaitan: Wah Ini Cewek Boleh Juga…

Coky Simanjuntak | Minggu, 11 Desember 2016 09:12:55

Luhut Pandjaitan dan istrinya, Devi Simatupang/FB
Luhut Pandjaitan dan istrinya, Devi Simatupang/FB

Baru-baru ini Menko Maritim Luhut Pandjaitan merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke-45 bersama istri tercinta, Devi Simatupang. 

Bersama anak, cucu dan menantu, Luhut mengenang ketika dia pertama kali bertemu dengan belahan jiwanya.

“Wah ini cewek boleh juga,” kesan saat pertama berjumpa dengan Devi pada tahun 1966 di Bandung, seperti dituliskan Luhut lewat fanpage Facebooknya, belum lama ini.

Luhut bercerita, kala itu itu dia masih duduk di kelas 3 SMA. Di masa itu orang kalau mau telepon dari Bandung ke Jakarta harus pakai sambungan khusus SLJJ tidak semudah sekarang. 

"Dan kebetulan di rumahnya (Devi) terdapat menara SLJJ. Secara tidak sengaja saya menumpang telepon di rumahnya, dan itulah awal mula saya melihat dia,” ujarnya.

(BACA: 5 Hal yang Wajib Kalian Ketahui Sebelum Dekati Gadis Batak)

Dari situ, Luhut akhirnya tahu Devi masih duduk dikelas 1 SMA. Pertama kali ketemu, Luhut sudah suka dan langsung yakin Devi akan menjadi istrinya. 

"Tidak tahu bagaimana saya bisa seyakin itu,” ujarnya.

Luhut Pandjaitan dan istrinya, Devi Simatupang/FB

Setelah pertemuan pertama itu, Luhut kemudian banyak cari-cari alasan supaya bisa ke rumah Devi untuk sekadar bertemu. “Dengan pura-pura mau telepon,” ujarnya.

Di tahun 1966 yang marak dengan berbagai demonstrasi itu, Luhut dan Devi justru menjadi teman dekat. "Kadang-kadang kami berduaan makan mi baso dan es cincau di pinggir jalan,” ujar Luhut. 

"Kadang saya juga ajak dia nonton bioskop yang waktu itu hanya seharga Rp 1000. Ayah dan ibu kalau memberi uang saku kepada saya memang pas-pasan,” kenangnya.

(BACA: Ini Alasan Kenapa Gadis Batak Harus Teguh Menjaga ‘Kehormatannya’)

Setelah makin dekat, Luhut makin yakin dengan Devi untuk menjadi pendamping hidupnya. "Karena itu meski sempat berpisah karena saya masuk Akmil selama 3 tahun, saya tetap menyurati dia,” ujarnya. 

Setelah lulus dari Akmil, Luhut kemudian masuk Kopassus. "Kami akhirnya bertemu lagi dan kemudian menikah pada 27 November 1971,” katanya.

"Sejak itu sampai sekarang, banyak suka duka yang kami alami bersama, tetapi penyertaan Tuhan selalu nyata,” imbuhnya.

Pesan untuk Naposo

Di hari HUT pernikahannya yang ke-45, Luhut berpesan kepada anak-anak muda agar terus belajar mensyukuri berkat-berkat Tuhan. Sebab, perjalanan hidup itu tidak selalu mulus, terkadang senang terkadang susah. 

"Pada akhirnya kita harus banyak berdoa dan jalani saja hidup ini setiap hari dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Bagi para pasangan muda, kata Luhut, pernikahan itu tidak bisa ‘take it for granted’. 

"Harus senantiasa disirami dengan kasih dan cinta, terutama dengan kasih Tuhan. Pasti banyak perbedaan dalam pernikahan, tapi semua bisa dijembati kalau masing-masing menabur cinta,” ujarnya.

(BACA: Ketika Pengantin Batak Tak Bisa Nikmati Malam Pertama)

Kepada istri tercintanya, Luhut secara khusus berterimakasih untuk semuanya. "Terimakasih sudah mau memahami saya selama ini, dan banyak mengisi kekosongan-kekosongan saya sebagai manusia yang tidak sempurna,” ujarnya.

"45 Tahun memang bukanlah waktu yg singkat, tapi kalau Tuhan mengijinkan, aku masih mau bersamamu 5, 10, atau 15 tahun yang akan datang,” ujar Luhut yang sudah dikarunia 4 orang anak dan sejumlah pahompu (cucu) ini.

Luar biasa...