Ketika Pengantin Batak Tak Bisa Nikmati Malam Pertama

Coky Simanjuntak | Senin, 18 April 2016 20:04:56

Judika Sihotang dan Duma Silalahi/Youtube
Judika Sihotang dan Duma Silalahi/Youtube

Malam pertama pasti menjadi bagian penting dan mendebarkan bagi setiap pasangan yang baru menikah. Tapi, tahukah kalian bahwa pengantin Batak Toba dulu nyaris tak bisa menikmati malam pertama. Bah, kenapa?

Setelah mengikuti acara adat Batak sampai sore atau malam hari, pengantin sudah ditagih oleh kawan-kawannya untuk melakukan pesta naposo (pesta muda-mudi). Tradisi ini setidaknya terjadi di Tano Batak sebelum tahun 1945.

Pesta ini praktis membuat pengantin satu malaman tidak tidur. Otomatis pengantin pun tidak bisa menikmati malam pertamanya. Kasihan juga ya….

Prof. Dr. Bungaran Simanjuntak lewat bukunya ‘Sistem Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hingga 1945’ (2006) menyebutkan, pesta ini adalah pesta initiate (peralihan status) bagi pengantin wanita.

Untuk pengantin wanita, hal ini menjadi tanda perpisahan karena mulai besok paginya dia bukan anak gadis lagi dan tidak boleh bergaul bebas seperti masih gadis.

Karena alasan itu, setelah pesta hampir usai pada pagi hari, para gadis-gadis ini biasanya menangisi pengantin perempuan. Tangisan itu menandai pengantin tidak lagi menjadi bagian muda-mudi, tetapi natua-tua (orangtua).

Sementara itu, dalam pesta naposo, pengantin pria harus memberi jambar naposo (bagian muda-mudi) kepada setiap pemuda maupun pemudi yang hadir. Jambar ini bisa berupa yang atau benda yang lain.

Uniknya, pesta naposo juga sering kali dimanfaatkan oleh para pemuda-pemuda teman pengantin pria untuk berkenalan dengan gadis-gadis yang juga hadir dalam acara tersebut.

Tidak jarang dari situ juga tercipta hubungan baru yang bisa sampai ke pelaminan. Begitulah pesta naposo. Di satu sisi membuat pengantin baru tidak bisa menikmati malam pertamanya, tapi di sisi lain memberi berkat buat kawan-kawannya yang masih lajang.

Lagi pula, buat apa malam pertama, kalau masih ada malam kedua, ketiga dan seterusnya, ya kan? He-he-he