Ini Cara Orangtua Batak Melihat Bibit, Bebet, Bobot Calon Menantu

Tansiswo Siagian | Selasa, 14 Maret 2017 08:03:36

Ilustrasi/Film: Demi Ucok
Ilustrasi/Film: Demi Ucok

Sebab, wanita akan menjadi istri dan menyatu dengan klan marga tunggane boru, soripada dan paniaran marga. Sudah selayaknyalah wanita yang hendak dinikahi adalah pilihan yang terbaik yang dicintai setulus hati “tinodo ni roha na dumenggan di bagasan holong”.

Dan pria kelak akan menjadi “pamoruan” marga orangtua wanita yang kelak bisa diandalkan sikap, tenaga dan perbuatan “sipangasahonon pangalahona, gogona dohot pambahenanna.”

Sebab itu, maka kedua pihak akan mencari tahu lebih mendalam siapa calon menantunya, bagaimana kehidupannya, kepribadiannya, baik moral dan hatinya, bagaimana orangtua dan kerabatnya, apakah orang yang baik menjunjung budaya dan adat Batak “paradat jala na burju marroha?”

Kecantikan dalam menentukan menantu wanita menjadi urutan sekian sebab jika hati, moral, dan perilakunya baik, terlebih pekerjaannya baik (saat ini) maka itu sudah dianggap cantik, “na uli do nang na roa molo dung denggan pangalahona”.

Jadi naposo Batak, jangan heran jika ada pasangan yang hendak menikah, tapi lewat proses ‘mangaririt’, orangtua mereka justru tidak menyetujui adanya pernikahan.

Sebab orangtua tidak ingin pernikahan anaknya kelak membuat keluarga besar/marga menanggung malu karena orangtua tidak memberikan nasihat dan pendapat.

“Tinallik bulung si hupi, pinarsaong bulung sihala, unang sumolson di pudi alani sipasingot na so ada”.

Jadi, perlu kalian ingat ya, perceraian adalah aib bagi budaya dan adat Batak...