Ini Alasan Kenapa Pria Batak Dilarang Nikahi Putri Namboru

Coky Simanjuntak | Sabtu, 16 April 2016 18:04:01

Ilustrasi pernikahan terlarang dalam Batak Toba. @Batakgaul
Ilustrasi pernikahan terlarang dalam Batak Toba. @Batakgaul

Pernikahan ideal dalam adat Batak Toba adalah antara anak laki-laki dengan boru ni tulang, atau putri saudara laki-laki ibu. Hubungan ini biasa juga disebut pariban.

Sinetron ‘Pariban dari Bandung’ yang tayang tahun 1990-an cukup memberikan gambaran pada kita bagaimana hubungan ini sangat dihargai dalam adat Batak Toba.

Dalam bahasa Indonesia, pariban bisa juga disebut sepupu. Tapi hubungan sepupu yang disebut pariban haruslah antara anak laki-laki dengan putri saudara laki-laki ibu (tulang). Tidak bisa terbalik!

Sebab, jika terbalik, yakni antara anak laki-laki dengan putri namboru (saudara perempuan ayah) justru dilarang. Bagi orang Batak Toba, hubungan dengan putri namboru ini adalah marito atau bersaudara-saudari.

Karena saling bersaudara, maka pernikahan antara anak laki-laki dengan putri namboru, sama saja sumbang (incest).

Menurut Guru Besar Antropologi Univesitas Negeri Medan, Prof Bungaran Antonius Simanjuntak, setidaknya ada dua alasan mengapa menikahi anak namboru dilarang.

“Maksud larangan ini ialah agar partuturan (hubungan kekerabatan) tidak menjadi kacau atau rusak, dan terbalik-balik,” kata Ompung Bungaran dalam bukunya ‘Sistem Sosial dan Sistem Politik Batak Toba hinga 1945’, seperti dikutip batakgaul.com.

Hubungan yang terbalik-balik itu, kata Ompung Bungaran, adalah antara hula-hula (pihak pemberi perempuan) dan boru (penerima perempuan).

Jika pernikahan tersebut terjadi, maka kedudukan hula-hula – yang merupakan tertinggi dalam struktur Dalihan Na Tolu - menjadi jatuh. Sebab, boru menjadi hula-hula dan hula-hula yang pertama menjadi boru.

“Ini sama sekali tidak dikehendaki di dalam suatu keluarga dekat (connubium),” ujar Ompung yang meraih gelar master di Universitas Leiden, Belanda ini.

Alasan lain, kata Ompung Bungaran, adalah soal mas kawin (sinamot atau tuhor).

“Ini agar sinamot yang diterima sewaktu mengawinkan gadis kepada pihak boru tidak kembali secara langsung kepada pihak boru yang terbalik menjadi hula-hula,” ujar Ompung Bungaran.

Jadi, dengan tidak menikahi putri namboru, kalian sudah turut merawat partuturan adat Batak Toba. Lagian, macam tidak ada boru lain saja kalian ini…he-he-he