Ini Alasan Kenapa Orang Batak Jarang Bercerai

Tansiswo Siagian | Rabu, 01 Maret 2017 09:03:15

llustrasi/batakgaul
llustrasi/batakgaul

Perkawinan dalam adat Batak itu bersifat sakral, penuh makna dan menyangkut martabat kedua marga. Oleh karenanya, perkawinan halak hita sangat ketat dan melibatkan banyak pihak.

Paling tidak, melibatkan 4 unsur yakni suhi ni ampang na opat kedua pihak, yakni : simolohon (abang atau adik pengantin), pamarai (abang atau adik orangtua pengantin), paribahan/sihunti ampang (kakak atau adik dan atau bibi pengantin), dan tulang (paman).

(BACA: 4 Pernikahan yang Dilarang dalam Batak Toba)

Tahapan yang dilakukan pun sebelum menikah cukup panjang, yakni martandang (mendekati, pdkt), mangaririt (proses memilih atau menentukan cocok tidaknya pasangan), maroroan/marsijaloan tanda (mengikat janji/tunangan), marhusip, marhata sinamot, marpulut saut (akad nikah/janji secara agama), mangido pasupasu sian tulang (minta izin paman), mangadati (acara adat), paulak une/mebat, tingkir tangga/tingkir tataring di samping prosesi keagamaan sesuai agamanya.

(BACA: 'Sinamot' Bukan Penghalang! Kecil atau Besar, Tetap Adat Batak…)

Semua itu tentu memiliki nilai histori dan filosofi yang tinggi dan melibatkan banyak pihak. Jadi, perkawinan Batak tidak lagi sebatas ikatan individu pasangan menikah, namun telah melebar melibatkan marga kedua pihak walaupun prosesnya tidak harus melibatkan seluruh yang bermarga sama dengan pasangan tersebut.

Tetapi secara hukum adat, yang turut serta dalam proses itu adalah atas nama dan martabat marga yang diwakilinya.

Bagaimana maksudnya?