‘Mamak Sih Terserah Kau, Tapi Kalau Bisa Boru Batak ya...'

Coky Simanjuntak | Kamis, 21 April 2016 16:04:31

Mak Gondut dalam Demi Ucok/Wordpress
Mak Gondut dalam Demi Ucok/Wordpress

Keluarga Batak yang sudah merantau biasanya lebih terbuka untuk calon pendamping hidup anaknya. Tidak harus sesama orang Batak, yang penting keyakinannya sama. Begitulah kira-kira nasihat mereka.

Namun, walau sudah bisa menerima pernikahan antarsuku, tetap saja ada keinginan tersembunyi orangtua agar anaknya menikah dengan sesama halak hita.

“Mamak sih terserah kau, tapi kalau bisa Boru Batak ya Mang…”

Begitulah kira-kira kalimat yang banyak diucapkan kebanyakan mamak-mamak, ketika melihat anak lelakinya sedang berjuang mencari pasangan hidup.

Atau kalau anaknya perempuan, si mamak biasanya mengungkapkan keinginannya dengan halus. “Orang Batak juga banyak yang modern dan ganteng-ganteng lho Kak...”

Hal ini setidaknya pernah dialami oleh Albert Simanjuntak, salah satu karyawan swasta di Jakarta. Terlahir di keluarga Batak Toba yang masih kuat memegang adat, Albert sering sekali mendapat nasihat seperti itu. (BACA: 5 Hal yang Wajib Kalian Ketahui Sebelum Dekati Gadis Batak)

“Saya paham orangtua bukannya anti dengan suku lain, tapi mereka hanya ingin cepat beradaptasi dengan menantu dan keluarga besannya kelak,” kata Albert saat berbincang dengan Batakgaul.com, pekan lalu.

Menurut Albert, orangtuanya sebenarnya sudah cukup terbuka dengan pernikahan antarsuku. Selain karena ompung boru-nya (nenek) berasal dari suku lain, orangtuanya juga sudah puluhan tahun hidup di Jakarta.

“Tapi ya itu, mereka takut rumah tangga anaknya akan seperti rumah tangga orang lain yang hancur karena si menantu yang bukan Batak tidak mau beradaptasi. Akibatnya, sering timbul keributan,” kata Albert.

Kalau sudah begitu, kata Albert, dia hanya bisa meyakinkan bahwa semua tergantung pribadi masing-masing. “Contohnya ompung boru itu orang Sunda asli, tapi bisa beradaptasi kan Mak?” ucap Albert cerdik kepada mamaknya.

Akhirnya Albert menikahi wanita non-Batak yang dicintainya. Namun, sebelum menikah, calon pengantin wanita diangkat menjadi anak perempuan (manganin boru) dari tulangnya, marga Napitupulu.

Lewat prosesi adat itu, dia pun resmi menjadi boru Napitupulu.

“Sekarang saya dan istri pun mulai rutin mengikuti acara adat Batak. Kalau begini, malah membantu penyebaran adat Batak kan?” kata Albert sambil tertawa.