Berapa Sinamot yang Pantas Diterima Boru Batak?

Coky Simanjuntak | Senin, 25 April 2016 21:04:49

Kaos Sinamot/tokopedia.com
Kaos Sinamot/tokopedia.com

Sinamot atau tuhor adalah mas kawin dalam adat Batak Toba yang diberikan pihak laki-laki (paranak) kepada pihak perempuan (parboru) pada saat pesta pernikahan.

Dulu sinamot bisa berupa hewan ternak, namun setelah adanya mata uang, hampir semua sinamot sekarang berbentuk uang.

Karena begitu penting sinamot ini dalam pesta nikah adat Batak Toba, pembicaraan mengenai uang mahar ini dilakukan jauh-jauh hari dilakukan, sebelum diberikan pada saat pesta adat pernikahan (marunjuk).

Bahkan, tidak jarang karena tidak ada kesepakatan antara pihak laki-laki dan perempuan soal sinamot, pernikahan pun batal terlaksana.

Nah, supaya pernikahan kalian tidak batal karena persoalan sinamot, ada baiknya kalian mengetahui berapa sinamot yang pantas kalian berikan atau terima?

Soal berapa nominal sinamot yang pantas, tentu tidak bisa dipukul rata untuk setiap pasangan. Sebab, hal itu sangat tergantung oleh banyak faktor.

Namun demikian, kalian tetap bisa mempekirakannya sendiri mengikuti beberapa dasar pertimbangan.

Guru Besar Universitas Negeri Medan, Prof Antonius Bungaran Simanjuntak, mengatakan salah satu dasar penentuan besarnya sinamot yang dipakai pada orang Batak dulu adalah jumlah sinamot yang diberikan si bapak (yang ingin menikahkan putrinya) kepada pihak hula-hula istrinya dulu.

Sang bapak, kata Bungaran, secara tidak langsung menentukan sinamot anak gadisnya sebesar uang yang diberikannya dulu.

“Karena sinamot anak gadisnya itu kelak akan diberikannya lagi (secara tidak langsung juga) kepada pihak anak gadis, calon istri anaknya,” ujar Bungaran.

Namun, dasar pertimbangan tersebut sepertinya tidak berlaku lagi. Selain karena nilai uang terus mengecil karena tergerus inflasi sehingga tidak mungkin sinamot bapak sama dengan yang ditarik putrinya, dasar petimbangan penentuan jumlah sinamot juga lebih kepada kelas sosial.

Kelas sosial itu menyangkut tingkat pendidikan dan pekerjaan si perempuan. Semakin tinggi kelas sosial si perempuan, maka semakin tinggi harga sinamot-nya.

Misalnya saja, untuk perempuan dari kalangan kelas sosial tinggi, seperti Astrid Tiar Panjaitan dan Duma Riris Silalahi, pasangan mereka, yakni Gerhard Reinaldi Situmorang dan Judika Sihotang, harus mengeluarkan masing-masing Rp 150 juta dan Rp 200 juta.

Harga sinamot ratusan juta ini wajar mengingat profesi Astrid dan Duma Riris sebagai artis yang memiliki penghasilan tinggi. Disamping itu keduanya juga mengenyam pendidikan tinggi.

Meski tampak wajar, bagi masyarakat awam yang tidak melihat dasar pertimbangan, sinamot untuk Astrid dan Duma Riris tersebut sangat luar biasa jumlahnya.

Namun perbedaan pandangan tersebut tentu tidak akan terjadi, jika masing-masing pihak memahami dasar petimbangan penentuan harga sinamot tersebut.

Dan satu lagi yang terpenting adalah si pemberi sinamot (paranak) tidak keberatan dengan jumlah yang ditawarkan parboru.