Apa Jadinya Jika Pernikahan Batak Batal Setelah Tunangan?

Coky Simanjuntak | Sabtu, 16 April 2016 23:04:06

Ilustrasi tunangan/theweddingspecialists.net
Ilustrasi tunangan/theweddingspecialists.net

Tujuan akhir dalam setiap pertunangan adalah pernikahan dan terciptanya rumah tangga baru. Namun, karena satu dan lain hal, ada saja kejadian pernikahan batal, justru setelah pasangan bertunangan.

Walau tidak sering, perstiwa ini juga terjadi dalam adat Batak Toba. Penyebabnya macam-macam, mulai dari si pemuda yang pergi meninggalkan si gadis begitu saja, sampai si orangtua yang tidak sepakat soal tuhor atau sinamot (mas kawin).

Dalam bukunya ‘Masyarakat dan Hukum Adat Batak Toba’ (1986), ahli Belanda, JC Vergouwen, memaparkan, jika si pemuda meningalkan tunangannya tanpa alasan yang tidak dapat dibenarkan (magigi di oroanna), maka dia akan mendapatkan teguran keras.

Teguran ini datang dari para perantara (godang hata taononna) yang sudah dibuat malu oleh sikap si pemuda. Bahkan bukan hanya teguran, melainkan ancaman keras juga akan didapat si pemuda yang tidak bertanggung jawab itu.

Disebut tidak bertanggung jawab karena si pemuda sudah menyampaikan tanda hata (pertukaran tanda/tanda janji lisan) atau disebut juga tanda burju (tanda kesungguhan), dalam proses pertunangan.

Namun lain halnya jika pembatalan pernikahan disebabkan oleh sikap orangtua yang tidak setuju dengan nilai maskawin yang sudah dibicarakan. Alih-alih mendapat hukuman dan ancaman, si pemuda justru bisa menuntut agar si gadis mengembalikan benda-benda (tanda hata) yang sudah diberikan.

Akan tetapi, untuk benda-benda yang nilainya yang tidak terlalu mahal, biasanya tidak diperhitungkan lagi seandainya pernikahan batal setelah pertunangan. Sebab, barang-barang itu akan dianggap sebagai inggir-inggir na mapipil, na so siluluan (benih kecil yang bertebaran dan tidak dapat dituntut kembali).

Pepatah di atas merujuk pada semua barang kecil yang terkait dengan suatu transaksi. Namun, pengembaliannya tidak dapat dituntut di muka pengadilan.