Alasan Logis Kenapa Mencari Jodoh Batak Itu Memang Sulit

Coky Simanjuntak | Senin, 18 April 2016 02:04:21

Pernikahan Adat Batak Toba, Gerhard R Situmorang-Astrid Tiar Panjaitan/kapanlagi
Pernikahan Adat Batak Toba, Gerhard R Situmorang-Astrid Tiar Panjaitan/kapanlagi

Mencari pasangan hidup sesama orang Batak tampaknya masih menjadi hal yang utama bagi sebagian besar halak hita. Tuntutan orangtua ini terkadang bisa membuat si anak se-te-res alias stres!!

Katakanlah si anak sudah mendapat pacar (halet) orang Batak, tapi ternyata adat Batak melarang dua marga itu untuk menikah. Atau kalaupun tidak ada aturan adat yang dilanggar, belum tentu keduanya cocok secara pribadi.

Boleh dikatakan mencari jodoh (rokkap) Batak itu lebih sulit daripada mencari jodoh non-Batak. Sebab, setidaknya ada 3 (tiga) filter bagi seseorang untuk menemukan belahan jiwa dari halak hita, yakni:

1) Harus sesama Batak;

2) Tidak melanggar adat istiadat; dan

3) Cocok antar individu.

Filter Pertama

Untuk tembus pada filter yang pertama saja, seorang jomblo Batak sudah dihadapkan pada persoalan minimnya jumlah populasi suku Batak di Indonesia. Asal kalian tahu, bahwa jumlah suku Batak di Indonesia menurut Sensus 2010 adalah 8.466.969 jiwa.

Jumlah populasi suku Batak memang mengalami pertumbuhan pesat sejak tahun 2000, yakni 3,93 % per tahun atau di atas rata-rata pertumbuhan penduduk nasional yang hanya 1,43 %. Namun tetap saja jumlah suku Batak yang 8,4 juta jiwa itu hanya 3,5 % dari total penduduk Indonesia.

Jumlah 3,5 % itu sudah gabungan suku Batak yang terdiri dari 6 sub suku, yakni Toba, Karo, Mandailing, Simalungun, Angkola dan Pakpak. Selain itu, jumlah tersebut juga sudah termasuk semua jenis kelamin (pria dan wanita) dan kelompok umur, dari anak-anak sampai ompung-ompung.

Logikanya, jika kalian ingin mencari jodoh dari sub suku Batak yang sama, dan tentu dari lawan jenis, serta dengan rentang usia menikah (misalnya 18-35 tahun), maka peluang pasarnya jelas lebih kecil lagi.

Dengan asumsi proposisi jenis kelamin di populasi suku Batak seimbang (1,75% pria dan 1,75% wanita), dan dikurangi sub suku Batak dan kelompok umur yang sama (misalnya, 0,25%), estimasi pasar jodoh Batak bisa hanya bersisa 1,5 %.

Ilustrasi Mencari Jodoh Batak. 

Perlu kalian ingat, jumlah 1,5 % itu satu Indonesia Raya, lho! Jadi, siapkah kalian mencari satu orang dari 1,5 % atau sekitar 3,5 juta jiwa di seluruh nusantara? Kalau kalian hanya mampu mencari di satu kota, Medan atau Jakarta misalnya, jumlah itu harus kalian kurangi lagi. Belum lagi, kalau kalian mencari yang seagama. Ya, tinggal dikurangi lagi.. :) 

Gambaran angka statistik di atas hanya ingin menunjukkan mencari jodoh Batak itu memang sulit sejak filter pertama. Bagaimana dengan filter kedua?

Filter Kedua

Seandainya pun sudah lolos filter pertama, atau dengan kata lain sudah mendapatkan pacar sesama Batak, belum tentu akan mulus di filter kedua, yakni adat.

Dalam adat Batak Toba misalnya, sepasang kekasih diperbolehkan menikah jika tidak melanggar 4 (empat) hal berikut:

  1. Namarito (Bersaudara-saudari)
  2. Namarpadan (Terikat perjanjian adat)
  3. Dua Punggu Siparihotan (Dua batu asahan satu ikatan)
  4. Pariban Na So Boi Olion (Pariban yang tidak bisa dinikahi)

(Baca: 4 Pernikahan yang Dilarang dalam Batak Toba)

Filter Ketiga

Jika sudah lolos filter tahap dua, selanjutnya pasangan dihadapkan pada filter ketiga yaitu, kecocokan antarpribadi. Berbeda dengan dua filter sebelumnya yang berasal dari luar diri (eksternal) , filter ini adalah dari dalam diri (internal). Jadi keputusan untuk menuju pelaminan memang datang dari dalam diri sendiri.

Duma Riris Silalahi dan Judika Sihotang/Youtube

Kecocokan antarpribadi ini juga tidak boleh dianggap remeh. Jangan karena ‘dibuang sayang’ lantaran sudah lolos filter pertama dan kedua, sepasang kekasih Batak memaksakan diri menikah, walau keduanya sebenarnya tidak cocok satu sama lain.

Perlu diingat, suami istri yang dinikahkan secara adat Batak sulit untuk bercerai karena proses adatnya tidak mudah dilewati, selain tentu proses hukum di pengadilan yang cukup menyulitkan. Jadi pikirkan berulang kali kalau kalian menikah adat hanya karena terpaksa.

Lalu, bagaimana sejoli dikatakan cocok atau tidak cocok? Tidak ada ukuran yang pasti. Setiap pasangan tentu punya ukuran yang berbeda-beda untuk menilai mereka cocok atau tidak.

Jadi, semua tergantung kalian semua. Selamat mencoba ya… :)