7 Alasan Mengapa Naposo Batak Akhirnya ‘Mangalua’

Tansiswo Siagian | Jumat, 24 Februari 2017 08:02:11

Ilustrasi mangalua
Ilustrasi mangalua

4. Tidak Direstui Orangtua. Mangalua biasanya terpaksa dilakukan karena pasangan pria/wanita ini sejak berpacaran “marhamlet/mardongan” sudah tidak direstui kedua pihak orangtua. Dan sudah mereka duga bahwa jika pun diberitahukan kepada kdua pihak orangtua, maka kedua pihak pasti tidak merestuinya.

5.  Anjuran Orangtua. Mangalua bisa atas seizin atau bahkan dianjurkan oleh kedua pihak orangtua paranak dan parboru karena faktor ekonomi kedua pihak yang sangat tidak memungkinkan melaksanakan adat perkawinan. Harapannya, segera tumbuh ekonomi pasangan tersebut agar segera melaksankan adat. “Anggiat humatop martumbur tolong, boi somba on jala suruhon nasida tohang ni bagas ni parboru” atau “ manggarar adat”.

(BACA: Terlanjur Kawin Lari, Pasangan Batak Toba Harus Lakukan Ini)

6. Aib Sebelum Nikah. Mangalua bisa dilakukan karena kedua pasangan naposo tadi telah melakukan hal yang belum pantas di luar nikah dan telah diketahui umum sehingga dianggap telah mempermalukan kedua pihak, terlebih wanita. Apalagi wanita telah diketahui umum hamil “nungnga mamuro pamoro ala naung teal buriran ni si boru”.

7. Alasan Tidak Jelas. Mangalua ini yang tak jelas ujung pangkalnya. Mangalua pasangan naposo Batak, tanpa alasan apapun, tidak pernah bergaul “mardongan”, tidak diketahui salah satu kerabat baik oleh pihak wanita maupun pria dan tidak tahu kemana mangalua dan kemudian tinggal dimana.

(BACA: 4 Perkawinan Menyimpang Menurut Adat Batak Toba)

Atau karena incest (pantang, atau suhar dalam partuturon). Wah, kalau begini jelas tindakan amoral, jalang dan tak beriman. “Ulaon ni si jambe jalang, na so maradat na so maruhum, jala na so marTuhan”. Kalau ini, jangan pulalah pernah kalian lakukan.

Nah, sekarang lae dan ito naposo Batak sudah semakin paham apa sesungguhnya mangalua dalam adat Batak. Lalu, apakah masih kalian mau mangalua?