Sisa Pakan Ikan Itu Bernama Pencemaran

Laurencius Simanjuntak | Senin, 03 Oktober 2016 09:10:34

Pemberian pakan ikan di PT Aquafarm Nusantara/regalsprings.com
Pemberian pakan ikan di PT Aquafarm Nusantara/regalsprings.com

Tidak bisa dipungkiri, usaha Keramba Jaring Apung (KJA) telah menyejahterakan warga di pinggiran Danau Toba, Sumatera Utara.

Warga Desa Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, Kabupaten Simalungun, yang berpenghasilan hingga ratusan juta per bulan telah membuktikannya.

Namun, keramba yang membuat warga sejahtera ini menjadi dilema jika melihat pencemaran lingkungan yang diakibatkannya. Sisa pakan ikan menjadi pencemar utama Danau Toba.

(BACA: Fortuner dan Pajero di Desa Keramba)

Hal ini pun diakui oleh Ray Retrigo Sitio, petani KJA di Haranggol. Walau mengaku menggunakan menggunakan pakan apung - yang diasumsikan dimakan habis oleh ikan, Ray tetap tidak memungkiri adanya pencemaran akibat aktivitas KJA.

“Pencemaran itu tidak bisa kita pungkiri. Bagaimana untuk menekan pencemaran itulah yang ingin kita pelajari dari pemerintah,” ujar Ray kepada batakgaul.com Sabtu dua pekan lalu.

“Ajarilah kami menjadi petani KJA yang baik,” imbuhnya lagi.

Pakan terapung tanpa fosfor (kiri) dan pakan tenggelam dengan fosfor (kanan)/batakgaul

Video yang diunggah Holmes Hutapea, penyelam asal Parapat, akhir Agustus lalu membuktikan bagaimana sisa pakan ikan di KJA milik masyarakat membuat endapan limbah di dasar danau.

“Limbah tersebut tidak bisa diurai,” kata Holmes.

(LIHAT VIDEO: Selami Dasar Danau Toba, Hutapea Temukan Limbah Menumpuk)

Lewat video yang diunggah di media sosial itu, Holmes ingin menunjukkan bahwa KJA milik masyarakat saja sudah begitu mencemari Danau Toba. 

“Bagaimana KJA untuk industri? Pastinya lebih parah,” tegas dia.

Berbicara industri KJA di Danau Toba, setidaknya ada dua perusahaan yang melakukan bisnis ini. Pertama, PT Aquafarm Nusantara (AN), perusahaan penanaman modal asing (PMA) asal Swiss yang beroperasi sejak 1998. Kedua, PT Suri Tani Pemuka, anak perususahaan pakan ternak, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk yang beroperasi sejak 2012.

PT AN lebih mendapat sorotan karena memiliki KJA jauh lebih banyak dari Japfa. Menurut data Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumut tahun 2014, PT AN memiliki 553 unit KJA. 

Salah satu unit KJA milik PT Aquafarm Nusantara/regalsprings.com

Namun menurut pantauan Google Earth dan keterangan beberapa sumber, PT AN memiliki sekitar 620 unit yang berada di lima zona, yakni;

  1. Panahatan, Kab. Simalungun
  2. Sirukkongon, Kab. Toba Samosir
  3. Pangambatan, Kab.Samosir
  4. Lontung, Kab. Samosir
  5. Silimalombu, Kab. Samosir
KJA milik PT Aquafarm Nusantara/batakgaul

Jika PT AN berada di tiga kabupaten, Japfa hanya berada di Kabupaten Simalungun. Menurut data Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Simalungun, Japfa memiliki 180 unit KJA yang berada di zona Tambun Raya.

Setiap tahun, PT AN bisa mengekspor 13.117 ton ikan nila bentuk fillet dengan merek Regal Springs Tilapia dengan nilai USD 72,2 juta atau Rp 938,7 miliar. Setidaknya itulah data Laboratorium Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan Medan pada 2014. 

Sementara Japfa pada tahun yang sama mengekspor sekitar 10 persen yang diekspor PT AN, yakni 1.111 ton fillet ikan nila dengan merek Toba Tilapia dengan nilai USD 7,4 juta atau Rp 96,2 miliar.

Kedua perusahaan tersebut, memang lebih mengutamakan pasar luar negeri, ketimbang pasar lokal. PT AN bahkan mengekspor lebih dari 90 persen produksinya ke luar Indonesia, dengan lebih dari separuhnya ke Amerika Serikat.

Ekspor PT Aquafarm Nusantara/aquafarmnusantara.blogspot.co.id

Besarnya hasil produksi PT AN itu membuat perusahaan ini dituding sebagai perusak nomor satu perairan Danau Toba. Sebab, untuk produksi yang besar, dibutuhkan pakan ikan yang juga besar.

Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumut mengungkapkan data, jumlah pakan yang ditabur ke Danau Toba 262 ton per hari atau 95.760 ton per tahun. Residu pakan ini yang akhirnya membentuk lumpur di dasar danau dengan ketebalan rata-rata 20 sentimeter.

LH, mantan karyawan PT AN bahkan menyebut, pakan ikan yang ditabur perusahaan bekas tempatnya bekerja itu sedikitnya 200 ton per hari. Jumlah ini dia hitung dari total truk pakan ikan PT AN yang masuk dari Medan ke Toba. 

“Kalau pakan itu sudah ditabur, air danau itu jadi coklat dan berminyak,” kata LH.

KJA milik PT Aquafarm Nusantara di Kab. Samosir/batakgaul

Soal pakan pencemar lingkungan ini, Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) pada awal Juni lalu pernah membuat petisi online agar pemerintah menutup PT AN karena diduga kuat telah mencemari Danau Toba dengan pakan yang ditebar.

YPDT menyebut, PT AN telah membari pakan ikan berupa kedelai transgenik (GMO soy) dari Cargill, perusahaan AS. Pakan ini juga ditambah fosfat, yang berbahaya bagi ekosistem danau.

(BACA: Ratusan Orang Teken Petisi Usir Perusahaan Swiss dari Danau Toba)

LH bahkan menyebut pakan ikan yang digunakan PT AN bisa membuat mandul ikan. Itu membuat ikan di KJA besar-besar. Bisa sampai 6 kg, tapi mandul,” kata LH.

Menurut LH, sisa pakan tersebut yang juga membuat mandul ikan di luar KJA. “Sudah tiga tahun Ikan Pora-pora tidak ditemukan di Danau Toba,” ujar LH yang delapan tahun bekerja untuk PT AN.

Sewaktu bekerja di PT AN, LH mengaku pernah menggunakan tabung inkubator untuk mengecek dasar danau di bawah KJA. Hasilnya, sisa pakan dan kotoran ikan mengendap di kedalaman 170 meter.

“Ini saya lihat dan buktikan dari hasil uji lab sewaktu saya diperbantukan untuk mengambil sampel air di daerah terdalam di lokasi KJA tersebut,” ujarnya.

Landing site PT Aquafarm Nusantara di Ajibata, Toba Samosir/batakgaul

Kepada media, PT AN bekali-kali telah membantah bahwa pakan yang dipakainya telah mencemari Danau Toba. Lewat situs resminya, PT AN mengatakan, pihaknya menggunakan pakan terapung yang terbuat dari bahan-bahan lingkungan.

"Hal ini dibuktikan dengan pilihan perusahaan untuk selalu menggunakan pakan yang sudah teruji di laboratorium dan memiliki sertifikat khusus.”

PT AN membantah telah mengotori air Danau Toba karena mereka juga berkepentingan untuk menjaga kualitas air yang baik, karena ikan dapat tumbuh baik di air yang kualitasnya juga baik seperti di Danau Toba. 

Menurut PT AN, untuk memastikan pakan tidak ada yang keluar dari KJA, setiap keramba milik perusahaan dibuat dengan struktur dua lapis jaring, yang terdiri dari jaring halus di bagian dalam dan jaring pelindungnya di bagian luar air. 

Struktur jaring 2 lapis yang diklaim PT Aquafarm Nusantara/aquafarmnusantara.blogspot.co.id

Soal struktur dua lapis ini dibantah oleh LH. Pernah suatu waktu LH ditugaskan untuk uji coba pemasangan penampungan limbah feses di bawah jaring di kedalaman 12 meter .

Rencananya, jika limbah sudah tertampung, maka akan disedot oleh pipa ke permukaan. “Namun gagal, karena limbah tersebut sangat lengket, susdah disedot ke permukaan,” ujar LH.

Mengetahui kendala tersebut, LH akhirnya menyelam untuk mengecek kondisi bawah air. 

“Saya merasakan sisa pakan dan kotoran ikan tersebut mengeluarkan hawa panas,” kata LH. Belum lagi bau limbah yang menempel di badan juga sangat sulit dihilangkan.

Dari hasil pengamatannya, limbah sisa pakan dan kotoran ikan yang dikeluarkan untuk satu unit KJA PT AN bisa mencapai satu mobil pikap per dua pekan.

“Bisa dibayangkan jika ini terjadi sampai berlangsung sampai masa panen selama 6 bulan dan dikalikan jumlah KJA yang dimiliki perusahaan itu,” ujarnya.