Raja Saudi Saja ke Bali, Kok Danau Toba Mau Berzonasi Halal?

Coky Simanjuntak | Selasa, 07 Maret 2017 06:03:20

Ilustrasi
Ilustrasi

Kunjungan Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulazis al-Saud, ke Bali mengejutkan banyak pihak. Sebab, sebagai pemimpin negara Islam, Raja Salman mau berlibur ke pulau yang mayoritas warganya beragama, dan kental dengan budaya Hindu.

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Osama bin Mohammed, menjelaskan Raja Salman memilih Bali karena sudah terkenal di dunia memiliki keindahan alam yang luar biasa. 

Maka tak heran, jika Raja Salman bersama 1.500 rombongannya akan menginap sedikitnya 5 malam di Pulau Dewata. Luar biasa bukan…

(BACA: Samosir Gelar 10 Event Wisata Sepanjang 2017, Ini Jadwalnya!)

Berkaca pada kunjungan Raja Salman ke Bali, masih perlukah wacana zonasi halal di kawasan wisata Danau Toba?

Wacana ini pernah disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Sumut, Elisa Marbun, kepada wartawan di kantor Gubsu, Jumat (20/1).

"Wisatawan tentu perlu mendapatkan jaminan makanan dan minuman halal. Jadi mereka tak perlu lagi bingung memikirkan mau makan di mana," ujar Elisa.

(BACA: Demi Promosi, Pemerintah akan Boyong Artis Korea ke Danau Toba)

Dengan zonasi halal, menurut Elisa, maka satu kawasan akan dijadikan pusat tempat makan dan minum bagi wisatawan yang mengutamakan produk halal. Menurutnya, zonasi ini akan menarik kunjungan wisatawan ke Danau Toba.

"Jadi lokasinya tidak berdekatan dengan rumah makan yang nonhalal,” ujarnya.

Anggota DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan, menilai kunjungan Raja Salman ke Bali membuktikan kunjungan seseorang ke lokasi wisata, tidak berhubungan dengan ada atau tidaknya zonasi halal, sekalipun wisatawan tersebut adalah pemimpin negara Islam.

"Pilihan berlibur ke Bali memberi pesan bahwa tujuan utama berlibur adalah menikmati keindahan alam, budaya, bahkan perbedaan dalam banyak hal,” kata Sutrisno kepada batakgaul.com, Senin (6/3).

(BACA: Tahun Ini, Wisatawan ke Samosir Diyakini Tembus 200 Ribu Orang!)

Oleh karenanya, menurut politikus PDIP ini, wacana zonasi halal menjadi sangat tidak relevan. Dengan bergitu, alasan zonasi yang dipakai Pemprov Sumut untuk menarik wisatawan, menjadi tidak berdasar.

"Pemikiran tentang zonasi halal hendaknya dihindari dari penyusunan rencana besar kepariwisataan,” ujar Sutrisno. 

"Pemikiran tentang zonasi halal justru akan menghambat pembangunan yang utuh dan menyeluruh terkait kepariwisataan, ”imbuhnya.

Jadi, kalau Raja Saudi saja mau ke Bali yang tidak ada zona halal-haram, masak pemerintah mau melakukannya terhadap Danau Toba sih...