Pakan Perusahaan Asing Diduga Buat Mandul Ikan Danau Toba

Laurencius Simanjuntak | Kamis, 01 September 2016 19:09:48

Holmes Hutapea di keramba perusahaan tempat dia bekerja pada 2012/Facebook
Holmes Hutapea di keramba perusahaan tempat dia bekerja pada 2012/Facebook

Holmes Hutapea, bekas karyawan Regal Springs, membongkar satu per satu dugaan pencemaran yang dilakukan perusahaan pembudidaya ikan nila di Danau Toba tersebut.

Dia menyebut limbah sisa pakan ikan yakni kedelai transgenik (GMO soy), yang diberikan perusahaan Swiss itu telah membuat mandul ikan di Danau Toba.

“Pakan itu memang membuat ikan cepat besar. Tapi ikan jantan tidak bisa membuahi, dan ikan betina tidak bisa bertelur,” kata Holmes saat dihubungi batakgaul.com, Kamis (1/9).

(BACA: Ratusan Orang Teken Petisi Usir Perusahaan Swiss dari Danau Toba) 

Menurut Holmes, dampak pakan itu tidak hanya mengenai ikan dalam keramba yang dimiliki Regal Springs, tetapi juga di luar keramba.

“Semuanya jadi terkontaminasi,” ujar pria yang pernah bekerja 8 tahun di Regal Springs itu.

Holmes yakin betul, pakan yang diberikan perusahaan asing itu menjadi salah satu penyebab tangkapan nelayan Danau Toba semakin sedikit.

“Sekarang kalau saya tanya nelayan dapat 3-4 kg sehari saja sudah hebat. Padahal orangtua saya dulu, tahun 1980-an, kalau pulang kapalnya nyaris tenggelam karena begitu banyaknya tangkapan,” kata Holmes.

Limbah Tak Terurai

Holmes mengatakan, limbah yang ditimbulkan dari aktivitas Regal Springs bukan hanya pakan ikan, namun limbah yang tidak bisa diurai.

“Tong-tong besi, tali, sling, kabel itu sangat banyak di dalam (danau). Kalau tong di laut bagus untuk terumbu karang, kalau di darat hanya jadi karat,” ujarnya.

Holmes mengaku mengantongi data pencemaran lingkungan yang dilakukan perusahaan tempat bekerjanya dulu. Namun, dia sedang menyusun strategi agar data bisa disampaikan dengan rinci.

(LIHAT VIDEO: Ini Pesona Danau Toba Dilihat dari Bukit Doa Huta Ginjang)

Keramba ikan milik Regal Springs/regalsprings.com

Pemegang sertifikat selam jenjang A3 dari Confédération Mondiale des Activités Subaquatiques (CMAS) ini membatah apa yang dilakukanya demi popularitas.

“Sama sekali bukan demi popularitas. Itu bukan politis, tapi humanis,” kata Holmes.

"Ini semata-mata karena pencemaran Danau Toba sudah sedemikian parahnya. Saya miris melihatnya,” ujar dia.

SPONSORED
loading...