Opera Batak: Kala Danau Toba Merana dan Naposo Cuma Berfoya-foya

Tuntun Siallagan | Kamis, 27 Oktober 2016 06:10:45

Opera 'O, Tano Batak' di Jong Bataks Arts Festival 2016 di Medan/batakgaul
Opera 'O, Tano Batak' di Jong Bataks Arts Festival 2016 di Medan/batakgaul

Saat suara seruling terdengar nyaring, puluhan anak muda terlihat naik ke atas panggung. Kemudan mereka mengatur posisi dan mulai manortor seperti Sigale-gale. Pertunjukan itu semakin memukau setelah salah satu dari mereka menyanyikan lagu 'O, Tano Batak'.  

Begitulah pembukaan Opera Batak berjudul "Ponggol" yang diperankan siswa-siswi dari Yayasan HKBP Sidorame di Gedung Utama Taman Budaya Sumatera Utara Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan, Sumatera Utara, Rabu (26/10) sore.

Dalam naskah opera yang ditulis oleh Agus Susilo itu, para pemeran terlihat mempertunjukan kehidupan sebagian anak muda Batak (naposo) saat ini. Hidup berfoya-foya, mabuk-mabukan dan hidup mengikuti zaman tanpa mengingat bagaimana awal sejarah dari Bangso Batak.

(BACA: Bangso Batak Darurat Ulos!)

Tak hanya sampai di situ, para pemeran opera yang disutradarai Ojax Manalu itu juga mempertontonkan seorang penguasa sombong merusak Danau Toba yang pada akhirnya keindahan danau kebanggan halak hita itu tidak terlihat lagi. Danau Toba bahkan sudah menjadi tempat sampah dan dipenuhi tumbuhan eceng gondok!

Danau Toba dipenuhi eceng gondok, Maret 2015/blogspot

Sementara sebagian generasi anak muda, seolah tak peduli lagi dan tidak menghargai keindahan danau Toba dan budaya Batak yang khusus diciptakan oleh Ompu Mulajadi Nabolon.

Setelah 45 menit, usai memerankan opera batak tersebut, para pemain pun terdengar menyanyikan lagu "Gelang Sipatu Gelang" dan hal itu langsung disambut tepuk tangan para penonton. Opera itu terlihat dan terdengar semakin sakral setelah diiringi musik bernuansa Batak dari Next Generation Orchestra.

"Opera atau drama yang digelar dalam acara Jong Bataks Art Festival 2016 ini mengisahkan Sigale-gale. Di mana pada waktu itu ada seorang anak muda sakit, kemudian orangtuanya memanggil Datu untuk menyembuhkan. Tapi akhirnya meninggal," ujar Tiar boru Simanjuntak.

(BACA: YPDT Siap Tuntut Pemerintah atas Kerusakan Lingkungan Danau Toba)

Penanggung jawab opera sekaligus guru di Yayasan HKBP Sidorame ini menambahkan, setelah pemuda tadi meninggal, orangtuanya pun mengambil sebatang pohon dan kemudian diukir menyerupai patung anaknya bernama Simanggale. Setelah itu, dia kemudian kembali memanggil Datu untuk menghidupkan pantung itu.

"Begitulah kira-kira sejarahnya. Selain itu, pertunjukan ini juga mengisahkan bagaimana kondisi Danau Toba saat ini. Jadi pesan dalam drama ini, mengingatkan supaya generasi muda kembali berkreatif, kembali belajar budaya, terlebih aksara Batak. Karena itu merupakan identitas kita," terangnya.

Dalam pementasan opera Batak di hari kedua Jong Bataks Art Festifal Ketiga tahun 2016 itu, pemerannya berjumlah 50 siswa/siswi. Mereka merupakan pelajar mulai SD, SMP, sampai SMA di Yayasan HKBP Sidorame.