Ini Klarifikasi Lengkap Pemprov Sumut Soal 'Talitali' Jokowi

Laurencius Simanjuntak | Rabu, 24 Agustus 2016 08:08:00

Presiden Jokowi dan Ibu Negara dalam Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba/batakgaul
Presiden Jokowi dan Ibu Negara dalam Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba/batakgaul

Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara menanggapi sejumlah kritik mengenai 'Talitali' (penutup kepala) yang dipakai Presiden Jokowi pada  arnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 2016 di Balige, Toba Samosir, Minggu (21/8) lalu.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara Elisa Marbun menegaskan  Talitali yang dikenakan Jokowi  murni untuk perayaan karnaval, bukan untuk acara adat Batak Toba. 

“Kami sudah terlebih dulu melakukan konsultasi kepada tiga Penenun ulos di tanah Batak Toba yakni penenun dari Silindung, Toba dan Samosir,” ujar Elisa lewat siaran pers, Selasa (22/8).

Perbandingan tali-tali yang dipakai Presiden Jokowi dan adat Batak Toba di Samosir/Facebook

Berikut klarifikasi lengkap Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumut:

Terkait sejumlah kritikan kepada Tali – tali yang dikenakan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo pada acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba pada hari Minggu 21 Agustus 2016 di Balige Kabupaten Toba Samosir Provinsi Sumatera Utara, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara Drs. Elisa Marbun, M.Si menegaskan "Tali – tali yang dikenakan oleh Bapak Presiden Ir. H. Joko Widodo murni untuk perayaan Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba bukan untuk acara Adat Batak Toba. Terkait  masalah Tali – tali yang dikenakan Presiden Republik Indonesia, kami sudah terlebih dulu melakukan Konsultasi kepada 3 (tiga) Penenun Ulos di Tanah Batak Toba yakni penenun dari Silindung, Toba dan Samosir"

Ketiga penenun Ulos tersebut merupakan penenun yang sudah terkenal di Kawasan di tiga Daerah tersebut. Bahkan mereka sudah sering membuat tenunan seperti yang dikenakan Bapak Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo kepada Pejabat – pejabat lain untuk dikenakan dalam acara Budaya maupun acara Karnaval. Para penenun Ulos tersebut juga selama ini sudah paham akan penggunaan pemakaian Tali – tali kepada sejumlah Pejabat selama ini khususnya untuk kegiatan acara Karnaval seperti yang dikenakan Bapak Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo. Jadi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara menegaskan bahwa Tali – tali yang dikenakan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo bukan untuk acara adat melainkan untuk acara karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba.

Mengenai kritikan dari sejumlah yang mengaku sebagai Tokoh adat dari Tanah Batak Toba agar dapat menerima dan mengerti Tali – tali yang dikenakan oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo bukan untuk acara adat melainkan untuk acara Karnaval kemerdekaan Pesona Danau Toba. Tali – tali yang dikenakan Presiden Republik Indonesia  Ir. H. Joko Widodo sudah menghimpun dari 3 (tiga) kampung penenun Ulos. Mereka inilah penenun asli Ulos Tapanuli yang sudah berusia 80 an tahun.

Dalam hal ini ada panjang di rambe – rambe dan sebagian lagi ada pendek itu boleh saja menurut penenun Ulos. Namun yang penting itu sesuai dengan dasar dari pada bentuk Ulos yang dibuat Tali – tali dengan tidak menghilangkan makna dari Ulos seperti warna hitam, putih, dan merah . Jadi Tali – tali yang dikenakan Presiden itu merupakan karya dari para Pakar Ulos ditiga Daerah tersebut, kalau Tali – talinya ada yang pendek dan panjang itu bisa – bisa saja. Tetapi harus mengerti pada acara Karnaval tersebut tidak ada acara adat atau Maha Rajaon (merajakan) seseorang. Kalaupun ada suatu modifikasi itu bisa – bisa saja karena Ini adalah acara Karnaval yang kadang bisa dimodifikasi tanpa menghilangkan makna arti Ulos dalam hal pemakaian Tali – tali di Kepala sesorang Pejabat tinggi Negara.

Berbicara tentang Ulos sudah banyak berkembang dan bahkan berbagai modifikasi terhadap Ulos sudah dilakukan oleh perancang Lokal, Nasional, dan Internasional untuk menarik Wisatawan Lokal maupun Internasional. Ini juga dilakukan para perancang diatas untuk memperkenal Ulos kepada Masyarakat Dunia. Bahkan pembawa acara Mata Najwa pernah mengenakan pakaian berbahaan Ulos yang dimodifikasi dalam membawa acaranya. Saat itu juga Najwa mendapat dukungan dan Support dari ribuan Netizen khususnya dari kalangan Masyarakat Batak, para netizen menganggap secara tidak langsung telah mempromosikan Ulos ke seluruh masyarakat Indonesia.

Bahkan Ulos pada masa sekarang ini sudah banyak dimodifikasi berdasarkan keinginan para Desainer, dimana ketiga warna hitam, putih dan merah tidak lagi menjadi dominan. Adat Batak Toba juga memiliki perbedaan diantara Daerah sekitar Danau Toba misalnya adat Batak yang di Silindung (Tarutung sekitarnya), Humbang (sekitar Humbang Hasundutan), Samosir (sekitar Pulo Samosir) dan Toba sekitar Porsea dan Balige dalam pelaksanaan upacara adat memiliki sedikit perbedaan. Belum ada suatu keputusan adat yang mengatakan bahwa bentuk Tali – tali yang dipakaikan pada adat masyarakat Batak Toba. Fakta ini dapat dilihat dalam pada aktifitas upacara adat.

Khusus untuk Tali – tali yang dipakai Bapak Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo  pada acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba sudah banyak yang memakai bentuk tersebut. Dan Kain Ulos yang digunakan untuk Tali – tali tersebut adalah Ulos Tuntuman yang sering dipakai sebagai kain Ulos penutup kepala (Tali – tali) Pria yang sudah menikah.

Pada dasarnya Ulos Tuntuman yang dibuat menjadi Tali – tali untuk Bapak Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo merupakan satu buah Ulos yang utuh hasil tenunan. Tidak ada pemotongan dan tambahan. Untaian rambu atau benang putih dibiarkan menjuntai banyak dan panjang untuk melambangkan banyaknya rakyat Indonesia (khusus masyarakat batak) yang dipimpin oleh Bapak Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo dan benang putih tersebut sengaja tidak dipilin karena Ulos tersebut meupakan hasil tenunan.

Kepada para Masyarakat Batak Toba khususnya yang mengaku sebagai Tokoh adat di Tanah Batak Toba, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara berharap dapat mendukung kehadiran Bapak Presiden selama 4 (empat) di Tanah Batak tanpa mencari – cari masalah yang dikenakan oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo. Masyarakat Batak Toba seharusnya bersyukur, dengan kehadiran Presiden selama 4 (empat) hari di Tanah Batak secara tidak langsung sudah mempromosikan Kebudayaan Tapanuli secara umum.

Selain itu belum ada pernah satupun Presiden yang mau tinggal selama 4 (empat) hari ditanah Batak. Ini dilakukan Presiden semata – mata untuk memajukan Tanah Batak yang selama ini selalu tertinggal dari Provinsi lainnya yang ada di Indonesia. Diharapkan kepada Para Tokoh adat dan masyarakat Batak Toba dapat mendukung kehadiran Presiden Ir. H. Joko Widodo.

Acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba tingkat Nasional yang dipusatkan di Balige Kabupaten Toba Samosir pertama dilakukan di Provinsi Sumatera Utara setelah 71 Kemerdekaan Republik Indonesia. Seharusnya kita masyarakat Batak harus bangga dengan keseriusan Bapak Presiden JokoWidodo dalam memajukan Tapanuli bahkan juga Presiden menegaskan agar Event ini diselenggarakan setiap tahunnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Utara menegaskan Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo dalam sambutannya menyampaikan agar kegiatan Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba harus menjadi agenda tahunan dikawasan Danau Toba untuk mendukung dan melestarikan Budaya dikawasan tersebut. Disampaikan Presiden disini kelihatan sekali perbedaan Budaya ada Batak Toba, Mandailing, Karo, Simalungun dan Pakpak tapi itulah yang menyatukan kawasan Danau Toba bahkan dengan mengenakan pakaian adat Batak Toba orang nomor satu di Republik Indonesia itu mengaku bangga dan senang melihat corak pakaian dengan berbagai motif Ulos Batak yang dikenakan seluruh masyarakat yang ada disana. Bahkan Presiden mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan memeliharanya.

SPONSORED
loading...