Fortuner dan Pajero di Desa Keramba

Coky Simanjuntak | Senin, 03 Oktober 2016 08:10:57

Mobil Toyota Fortuner di bibir Danau Toba yang penuh keramba di Haranggaol/batakgaul
Mobil Toyota Fortuner di bibir Danau Toba yang penuh keramba di Haranggaol/batakgaul

Mendung masih menggantung di Desa Haranggaol pagi itu. Tapi desa di bibir Danau Toba, Kabupaten Simalungun, tersebut tetap terlihat sibuk.

“Justru ini mulai agak siangan karena hari Minggu,” kata Sopan Sihalolo, pemilik CV. Moses Paimaham, menunjuk belasan pekerjanya yang sedang menurunkan pakan ikan dari truk ke bibir danau, Minggu dua pekan lalu.

Berbisnis ikan nila dengan Keramba Jaring Apung (KJA), bagi Sopan, tidak ada hari libur. Sebab ikan, terlebih nila yang doyan makan, tidak mungkin puasa barang sehari.

Tapi kesibukan Sopan yang tak kenal libur ini seakan terbayar jika melihat pendapatan yang dia dapat dari KJA. Dari 160 lubang KJA atau setara dengan 4.000 meter persegi yang dimiliki, Sopan bisa menghasilkan keuntungan Rp 6 juta per harinya.

Dengan demikian, dalam sebulan, Sopan bisa mendapat keuntungan Rp 180 juta.  “Itu sudah dikurangi dengan 100 ton pakan yang saya keluarkan per bulan,” kata Sopan.

KJA di Desa Haranggaol, Simalungun/batakgaul

Mengacu pada keuntungan Sopan, berarti keuntungan rata-rata petani KJA per bulan sekitar Rp 4,5 juta per 100 meter persegi keramba.

Sebagai tauke yang membawahi 33 petani, Sopan juga mendapat penghasilan tambahan dari setiap sak pakan yang diambil petani.

“Satu sak saya cuma ambil Rp 5 ribu,” kata Sopan.

Dengan membeli pakan Rp 5 ribu lebih mahal, petani KJA binaan bisa berutang pakan ikan pada Sopan selama 5-6 bulan atau dibayar setelah panen. 

Untuk pakan ikan petani binaannya itu, Sopan harus mengeluarkan 150 ton per bulan.

“Dari situ saya mendapat keuntungan Rp 25 juta per bulan,” ujar pria yang tak sempat tamat kuliah ini.

Berton-ton pakan ikan nila diturunkan dari truk milik CV Moses Paimaham/batakgaul

Dengan demikian, dari usaha KJA miliknya dan pakan ikan, dalam sebulan Sopan bisa mengantongi keuntungan Rp 205 juta. 

Keuntungan besar dari KJA ini juga dirasakan Ray Retrigo Sitio. Pemilik 24 lubang KJA atau setara 1.084 meter persegi ini bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 370 juta per sekali panen.

“Karena bibit baru, kita panen 5 bulan,” kata Ray yang berarti berpengasilan bersih Rp 60-70 jutaan per bulan.

Tidak hanya pemilik, pekerja KJA juga bisa dibilang berpenghasilan di atas rata-rata. Bahkan, seorang pekerja CV Moses Paimaham ada yang bisa menguliahkan anaknya di Pulau Jawa.

Para pekerja KJA CV Moses Paimaham mengepak hasil panen ikan nila untuk dijual/batakgaul

Heru Indrawan (21), pekerja di CV. Naimarata, mengaku mendapatkan Rp 1,6 juta per bulan. 

“Rokok bebas, makan juga sudah ditanggung,” kata pria lajang yang bekerja 7 jam per hari ini.

Jika uang makan plus rokok dihitung Rp 50 ribu per hari, maka upah yang didapat Heru bisa jauh melebihi Upah Minimum Provinsi (UMP) Sumut Rp 1,8 juta per bulan.

Kesejahteraan warga Haranggaol karena KJA ini secara kasat mata dapat terlihat dari kendaraan-kendaraan mewah yang terparkir dalam garasi rumah para tauke. 

Pantauan batakgaul.com, kendaraan jenis Mitsubishi Pajero Sport dan Toyota Fortuner adalah hal yang biasa bagi para tauke. Jenis mobil besar ini seakan pilihan pas bagi mereka yang berduit di tengah lingkungan pegunungan.

Mobil Mitsubishi Pajero dan Toyota Innova di depan rumah warga Haranggaol/batakgaul

Belum lagi kebanyakan mobil mewah tersebut diberi nomor polisi dua atau tiga angka, yang tentu memakan biaya tidak sedikit.

Meski sejahtera karena KJA, warga Haranggaol belum terbiasa membayar pajak untuk usahanya tersebut. Ray yang berpenghasilan bersih Rp 60-70 jutaan per bulan mengaku tidak membayar pajak atas usahanya itu.

“Bagaimana mau bayar pajak, perizinan belum ada, regulasi belum ada. Apakah pajak per kolam atau per hasil?” tanya Ray yang menunggu diterbitkannya peraturan gubernur soal zonasi KJA.

Pada Maret lalu, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Simalungun Jarinsen Saragih pernah menuturkan dari 7.000 KJA di Simalungun, hanya 244 yang memiliki izin dari pihaknya. 244 KJA yang berizin itu milik PT Aquafarm Nusantara dan PT Suri Tani Pemuka. Dengan kata lain, tidak ada KJA milik masyarakat yang berizin.

Tauke yang juga pemilik KJA CV. Moses Paimaham, Sopan Sihaloho/batakgaul

Sementara itu, Sopan yang usahanya sudah berbadan hukum lebih dari setahun, mengaku masih menunggu pemerintah untuk sosialisasi untuk perhitungan pajak. 

Dia mengaku pernah didatangi oleh orang pajak yang berjanji akan menyosialisasikan program pengampunan pajak (tax amnesty). 

“Tapi sekarang belum juga datang,” kata Sopan yang pada intinya siap membayar pajak.