Desa Wisata Danau Toba Itu Kini Penuh Keramba

Laurencius Simanjuntak | Senin, 03 Oktober 2016 06:10:33

KJA memenuhi Teluk Haranggaol, Kab. Simalungun/batakgaul
KJA memenuhi Teluk Haranggaol, Kab. Simalungun/batakgaul

Pada mulanya Haranggaol adalah desa wisata. Panorama lembah dan teluk di timur laut Danau Toba itu pernah menjadi magnet para pelancong di era 1960-1970an.

Kala itu, keceriaan anak-anak yang berenang di air jernih nan tenang adalah pemandangan yang biasa. Belum lagi para wisatawan yang memancing di dermaga sambil menatap hijaunya bukit di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara itu.

Singkat kata, pemerintah dan masyarakat setempat pernah menikmati hasil dari pariwisata Haranggaol, di samping pertanian sebagai mata pencaharian utama.

“Dulu Haranggaol itu sentra produksi bawang,” ujar Ray Regtrigo Sitio, warga Haranggaol kepada batakgaul.com dua pekan lalu.

Namun, kejayaan pariwisata dan pertanian Haranggaol telalu cepat redup. Pada 1990-an, tingkat kunjungan wisatawan menurun. Kalah dengan Parapat, objek wisata di kabupaten yang sama.

(BACA: Fortuner dan Pajero di Desa Keramba)

Di sisi lain, produksi sejumlah komoditas pertanian, seperti bawang, kol, tomat, cabe dan mangga pun terus merosot.

“Karena tanah sudah terlalu tua, harus ada masa istirahatnya,” kata Ray.

Aktivitas masyarakat di Desa Haranggaol, Simalungun/batakgaul

Di tengah keterpurukan wisata dan pertanian itulah, pada 1998 sebuah perusahaan pakan ikan memperkenalkan metode baru pembudidayaan ikan dengan Keramba Jaring Apung (KJA) kepada masyarakat.

“Sampai saat ini lebih dari separuh mata pencaharian masyarakat Haranggaol dari KJA,” ujarnya.

Dari 800 kepala keluarga (KK) di Desa Haranggaol, 413 KK memiliki KJA yang terpusat di tiga kampung yakni, Tangga Batu, Haranggaol dan Bandar Saribu. 

Selebihnya, warga memilih tidak mengusahakan KJA karena tinggal di daerah dataran tinggi atau perairan yang tidak tenang. “Jadi bukannya (kepemilikan KJA) tidak merata ya,” ujarnya.

Sumber: wawancara

Sebanyak 413 KK di Haranggaol itu memiliki total sekitar 6.000 lubang KJA. Setiap lubang ukurannya pun bermacam-macam, mulai dari 4x4 meter hingga ratusan meter persegi.

KJA yang paling kecil bisa berisi 5.000 ikan, sementara yang paling besar bisa memuat hingga 70.000 ikan atau setara dengan 12 ton.

Ray mengatakan, lebih dari 70 persen KJA di Haranggaol berisi ikan nila, sementara selebihnya adalah ikan mas dan udang. 

“Kami memilih nila karena relatif kebal terhadap virus,” kata petani keramba yang masih lajang ini.

Rupanya, kematian 100 ton ikan mas pada pekan kedua November 2004 silam itu masih menyisakan trauma bagi masyarakat Haranggaol. Jutaan ekor ikan mas itu mati karena wabah koi herpes virus (KHV) dengan kerugian total sampai Rp 40 miliar.

“Semua petani keramba di sini bangkrut, tidak bisa membayar utang,” ujarnya.

Para pekerja KJA di Haranggol membungkus ikan nila hasil panen/batakgaul

Setelah wabah itu, ikan nila menjadi primadona menggantikan ikan mas. Apalagi, setelah ikan jenis itu sudah mendapat tempat di pasar lokal. 

“Pada 2016, ikan nila sudah bisa menguntungkan dan puncaknya pada 2010,” kata Ray.

Budidaya ikan nila ini bukannya tidak pernah meredup. Pada April 2016, sebanyak 1.800 ton ikan nila di Haranggaol tiba-tiba mati, sehingga harus diangkat dengan alat berat.

Tim ahli riset Kementerian Perikanan memastikan kematian ikan-ikan itu akibat kekurangan oksigen. “Total kerugian Rp 43 miliar,” ujar Ray.

Meski sudah dua kali wabah menimpa, 2004 dan 2016, petani KJA di Haranggaol tidak kapok. Bagi mereka, penghasilan dari KJA tetap tidak bisa tertandingi oleh mata pencaharian lain.

Selain alasan penghasilan, kata Ray, masyarakat Haranggaol tidak mungkin mengembalikan pertanian sebagai mata pencaharaian utama. Sebab, perbandingan jumlah lahan dan warga tidak memungkinkan.

Ray Retrigo Sitio, petani KJA Haranggaol/batakgaul

Humas Asosiasi Perikanan Pertanian Lingkungan Hidup dan Budaya (APPLHB) Dearma Haranggaol Horisan ini memaparkan, desanya hanya memiliki 310 hektar lahan. Sementara, ada 800 KK dalam desa tersebut.

“Kalau dibagi rata, setiap KK hanya dapat 0,4 hektar lahan. Itu sangat tidak cukup untuk pertanian,” ujar Ray.

Belum lagi, kata dia, sebagian lahan Desa Haranggaol adalah masuk kawasan hutan lindung sesuai Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan No 44 Tahun 2005 alias ‘Register 44’. 

“Makanya kami di sini dilema antara pemerintah (yang menetapkan register 44) dengan kebutuhan hidup (atas lahan),” kata Ray.

Oleh karenanya, kata Ray, pilihan untuk mata pencaharian warga jatuh pada KJA, bukan lagi pertanian, apalagi pariwisata.

Pantauan batakgaul.com, pantai Haranggaol sepi dari wisatawan, bahkan saat akhir pekan sekalipun. Tidak ada lagi wisatawan yang menikmati air Danau Toba, karena teluk Haranggaol sudah dipenuhi KJA dengan jarak yang sangat dekat dengan pantai.

Kalau pun ada wisatawan, mereka datang hanya untuk memancing di pantai yang memang berisi ikan-ikan yang lepas dari KJA.

Pemandangan KJA di depan salah satu hotel di Haranggaol/batakgaul

Tingkat kunjungan ke hotel-hotel di Haranggaol juga menurun, bahkan beberapa tempat penginapan tidak terurus. Di salah satu hotel di Haranggaol pada akhir pekan Sabtu (10/9) misalnya, dari 14 kamar hotel, hanya 2 yang terisi.

Saat seorang pengunjung memilih sebuah kamar yang diinginkan dengan pertimbangan pemandangan, penjaga hotel tidak mengizinkan. 

“Maaf, kamar yang itu rusak,” ujar penjaga hotel.