Desa Meat, Pesona Lengkap Danau Toba di Tobasa

Alex Siagian | Sabtu, 17 Desember 2016 12:12:03

Pemandangan Desa Meat/batakgaul
Pemandangan Desa Meat/batakgaul

Kalau ada pertanyaan di mana titik terindah Danau Toba, barangkali Desa Meat adalah salah satu jawabannya. Terletak di Kecamatan Tampahan, Kabupaten Tobasa, Sumut, desa yang menghadap ke Danau Toba ini memiliki panorama alam yang luar biasa.

Berjarak 8 km atau 20 menit perjalanan dari Kota Balige, Desa Meat yang berada di kaki bukit, harus dicapai dengan jalan yang sedikit berbatu, terjal dan menukik. 

Akhir pekan lalu, batakgaul.com berkesempatan menyambangi Desa Meat. Perjalanan yang sedikit menantang itu seakan terbayarkan dengan pemandangan yang asri dan udara sejuk yang menyapa siapa saja di pintu masuk desa.

Begitu tiba, kami langsung dimanjakan dengan pemandangan hamparan padi nan hijau, yang dikelilingi perbukitan bebatuan, di sebelah kiri, kanan dan belakangnya.

Sementara di bagian depan, terbentang panorama Danau Toba yang berbatasan langsung dengan persawahan warga. 

Pintu masuk Desa Meat/batakgaul

Tampak satu dua perahu nelayan sedang memasang jaring ikan di danau yang masih bebas dari keramba jaring apung ini.

Tidak seperti di wilayah lain di Danau Toba, air danau di Meat masih bersih. Oleh karenanya, Meat Meat sangat cocok untuk pengunjung atau wisatawan yang gemar berenang. 

Untuk menikmati pesona Desa Meat dengan maksimal, wisatawan bahkan bisa berkemah di tepian danau vulkanis terbesar di dunia itu.

Selain panorama alam, penduduk Desa Meat yang masih kental dengan budaya Batak, juga dikenal ramah. Sehari-hari mereka disibukkan berbagai kegiatan sebagai petani, nelayan dan penenun ulos Batak. 

Di halaman rumah mereka, beberapa kaum ibu terlihat sedang menenun ulos Batak dengan cara tradisional. 

"Ini sudah dipesan. Harganya bervariasi, ada yang sampai Rp 1 juta. Tapi butuh waktu sampai seminggu mengerjakannya," sebut R. Siahaan, yang asyik mengayam benang warna-warni di teras rumahnya.

Penenun ulos Batak/batakgaul

 Dengan peralatan seadanya, jemari ibu tiga anak ini terlihat sangat cekatan menenun ulos batak.

"Di sini masih banyak penenun tradisional. Kebanyakan kaum ibu memilih ini sebagai pekerjaan kalau sudah selesai musim tanam," lanjutnya.

Untuk hotel atau penginapan lainnya, memang belum tersedia di Desa Meat. Namun, masyarakat setempat selalu membukakan pintu rumahnya  untuk tempat penginapan. 

Tidur di atas tikar anyaman dengan selimut tebal, membuat pengunjung benar-benar menyatu dengan kehidupan warga sekitar.

Bangunan rumah Batak berusia ratusan tahun juga masih ada yang berdiri kokoh di desa ini, meski tidak lagi memakai ijuk sebagai atap.

"Bangunan ini sudah berusia 200-an tahun. Ini peninggalan kakek saya. Hanya atap dan jendelanya yang saya ganti. Kalau tiang dan dindingnya masih tetap, tapi saya cat ulang biar kehilatan indah," sebut Ompung Siahaan yang mengaku sudah berusia 64 tahun.

Rumah Batak di Desa Meat/batakgaul

Bocah-bocah di desa ini juga belum kenal dengan gadget. Meski sinyal seluler sudah menjangkau desa ini, mereka masih setia dengan permainan tradisional. 

Tampak bocah-bocah di desa ini sedang asyik bermain bola kaki di lapangan yang hanya sekadarnya. Sementara bocah lain ada yang asyik bermain dengan menunggangi kerbaunya.

Anak-anak Desa Meat bermain kerbau/batakgaul

Kepala Desa, Bapak Simanjuntak, mengatakan desa ini dulunya disebut sebagai Tanah Kanaan. Sebab, selain padi yang tumbuh subur, ikan juga mudah didapat di tepian danau toba.

"Dulu zaman saya masih anak-anak, sekira tahun 1990-an, desa ini disebut Tanah Kanaan. Sebab padi tumbuh subur di sini, ikan juga mudah didapat di tepi Danau Toba. Soalnya dulu masih hanya itu yang diperlukan untuk bekal hidup," sebutnya.

Bagi kalian yang mulai jenuh dengan rutinitas kehidupan kota yang begitu-begitu saja, Desa Meat sangat cocok sebagai obat penyelamat... :)