Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution

Coky Simanjuntak | Selasa, 26 April 2016 03:04:23

Jenderal Besar TNI (Purn) AH Nasution
Jenderal Besar TNI (Purn) AH Nasution

Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution adalah salah satu penandatangan Petisi 50 yang menggoyang kekuasaan Soeharto pada 1980. Nasution menganggap kekuasaan Soeharto sudah kelewatan karena menggunakan Pancasila "sebagai alat untuk mengancam musuh-musuh politiknya."

Hubungan jenderal yang lolos dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 dengan Soeharto sebenarnya panas dingin. Pada 1959, Nasution pernah memecat Soeharto secara tidak hormat sebagai Pangdam Diponegoro karena telah menggunakan institusi militer untuk mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah.

Oleh Nasution, Soeharto juga pernah ketahuan melakukan penyelundupan gula dan kapuk bersama sejumlah pengusaha. Meski demikian, hubungan Soeharto dan Nasution pernah membaik beberapa pekan setelah peristiwa G30S.

Sejumlah sumber menyebut, Nasution yang beperan besar menjadikan Soeharto sebagai Panglima Angkatan Darat, karena lobi-lobi ayah Ade Irma Suryani Nasution itu kepada Presiden Soekarno.

Petisi 50 adalah catatan buruknya kembali hubungan Nasution-Soeharto. Nasution gerah dengan Soeharto yang semakin semena-mena memberangus lawan politik atas nama 'Pancasila'.

Nasution menikah dengan Johanna Sunarti. Bersamanya, Nasution memiliki dua anak perempuan, salah satunya Ade Irma Suryani Nasution yang tewas dalam peristiwa G30S. Nasution berpulang pada 6 September 2000 di Jakarta setelah menderita stroke dan kemudian koma. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.