'Tali Ihot Ni Hoda, Hata Ihot Ni Jolma'

Ester Napitupulu | Senin, 07 November 2016 11:11:33

Presiden Jokowi dan Prabowo naik kuda/Setpres
Presiden Jokowi dan Prabowo naik kuda/Setpres

Pertemuan Presiden Jokowi dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto Senin pekan lalu, mengingatkan kita akan sebuah umpasa (pantun Batak): Tali ihot ni hoda, hata ihot ni jolma. 

Artinya, tali adalah pengikat kuda, kata/ucapan adalah pengikat manusia. Kedua tokoh politik itu memang sama-sama menunggang kuda setelah bertemu selama 2 jam di kediaman Prabowo di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Usai menunggang kuda, masing-masing pun berkomentar (mandok hata), khususnya Prabowo terkait dengan rencana demo 4 November 2016. 

"Saya selalu berharap suasana baik, sejuk. Bapak Presiden sepintas mengatakan demonstrasi hak konstitusional, tapi beliau juga ingin yang baik dan itu yang kita inginkan, jangan sampai ada unsur yang mau memecah belah bangsa," kata Prabowo.

(BACA: 4 Bukti Kedekatan Jokowi dengan Orang Batak)

Prabowo dan Presiden Jokowi/Setpres

Kini demonstrasi sudah selesai, dan kita semua telah melihatnya bagaimana aksi dilakukan. Meski secara umum berlangsung aman, ada letupan kericuhan pada malam harinya setelah demo dilaksanakan di depan Istana Merdeka.

Bahkan, Presiden Jokowi menyebut ada aktor politik yang menunggangi demonstrasi tersebut.

"Kita menyesalkan kejadian ba'da Isya yang harusnya sudah bubar tapi menjadi rusuh. Dan ini sudah ditunggangi aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi," kata Jokowi dalam jumpa pers usai rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Sabtu (5/11) pukul 00.10 WIB.

(BACA: 5 Hal Ini Ingatkan Orang Batak agar Konsisten dalam Ucapan)

Siapapun aktor politik yang dimaksud presiden, umpasa Batak ’tali ihot ni hoda, hata ihot ni jolma’ menjadi penting untuk semua. Bahwa ucapan (janji) manusia, khususnya bagi orang Batak, mengikat dirinya sendiri, karena menuntut yang bersangkutan untuk menepatinya. Kalau bukan ucapan, apalagi yang bisa dipegang dari manusia.