Tak Efektif, Pesta Nikah Adat Batak Toba Diusulkan Dipangkas!

Alex Siagian | Jumat, 02 Desember 2016 20:12:42

Ilustrasi pernikahan adat Batak/kln
Ilustrasi pernikahan adat Batak/kln

Paradaton atau pelaksanaan adat Batak Toba seperti pada acara pernikahan dinilai sudah tidak efektif dan justru membebani halak hita sendiri dengan waktu pelaksanaan yang berlarut-larut. 

Oleh karenanya, rangkaian pesta nikah adat tersebut diusulkan dipangkas, dengan tidak mengurangi substansi.

Usulan tersebut mencuat dalam seminar 'Penyederhanaan Waktu Pelaksanaan Adat' yang digelar di lantai II gedung serbaguna HKBP Jl Gereja, Balige, Tobasa, Jumat (2/12).

Bagian pesta nikah yang dinilai perlu dipangkas yakni Tortor Parumaen, Mangolopi dan Mangulosi. 

Menurut Ketua Panitia Seminar, Garinus Pardede, Mangulosi dan Mangolopi (memberikan amplop oleh hasuhuton/pihak perempuan) tidak harus dilakukan secara satu per satu, tetapi cukup diberikan kepada satu orang sebagai perwakilan.

"Jadi kalau pada sesi Mangulosi, tidak perlu lagi satu per satu Mangulosi pengantin. Satu saja yang Mangulosi, yang lain cukup memberikan ulosnya saja,” ujar Garnius.

(BACA: Nikah Batak Ini Bikin Haru! Pengantin Wanita Digotong ke Gedung)

Seminar 'Penyederhanaan Waktu Pelaksanaan Adat' di Balige/batakgaul

Tidak cuma pesta nikah, adat Sari Matua/Saur Matua (penguburan jasad orangtua yang telah memiliki cucu dan cicit), juga dinilai tidak efektif karena jenazah terlalu lama disemayamkan. Belum lagi pada acara Partukoan, keluarga yang berduka, Mangolopi (memberi uang) kepada setiap undangan yang hadir melalui Tortor dan lain-lain.

Untuk mempersingkat waktu, sesi Mangolopi dinilai tidak harus dilakukan satu per satu oleh hasuhuton, tetapi cukup diberikan kepada satu orang sebagai perwakilan. Dengan demikian, jenazah diharapkan dapat dikebumikan selambat-lambatnya pukul 17.00 WIB. 

(BACA: 4 Alasan Orangtua Kenapa Anaknya Harus Nikah dengan Sesama Batak)

Menurut Garinus, nantinya hasil seminar yang diselenggarakan Lembaga Adat Toba (ALT) dan Pemkab Toba Samosir tersebut akan disampaikan kepada setiap tokoh adat/masyarakat di setiap desa di kabupaten tersebut, untuk kemudian disepakati bersama. 

Hadir pada seminar itu Wakil Bupati Tobasa Hulman Sitorus, Sekda Kabupaten Tobasa Murphy, Budayawan Batak, Monang Naipospos, tokoh masyarakat Binahar Napitupulu, Tagor Herman Nainggolan, RE. Nainggolan dan beberapa tokoh masyarakat lainnya dari seluruh Kecamatan se-Kabupaten Tobasa.

SPONSORED
loading...