Tahun Baru adalah Puncak Perayaan Natal Orang Batak

Nelson Sihite | Selasa, 27 Desember 2016 09:12:22

Ilustrasi Tahun Baru/lifehack.org
Ilustrasi Tahun Baru/lifehack.org

Bagi orang Batak Kristen berkumpul pada malam Tahun Baru adalah kewajiban tiap keluarga untuk berdoa bersama dan saling bermaaf-maafan. Dilanjut esok harinya (tangal 1 Januari) saling berkunjung ke kerabat dan handaitaulan.

Suku Batak adalah salah satu suku dari ratusan suku di Indonesia, yang bermukim di belahan tengah hingga selatan Provinsi Sumatra Utara.

Sebagian suku Batak menganut agama Kristen, kususnya Batak Toba mayoritas populasinya menganut agama Kristen.

Bagi Batak Kristen merayakan Tahun Baru adalah puncak dari perayaan Natal yang dikenal hari kelahiran Tuhan Yesus. Ini membingungkan, mengapa perayaan Hari Natal bukan pada tanggal 25 Desember melainkan pada malam hari 31 desember.

Bahkan orang Batak sendiri pun bingung dan tidak mengetahui persis mengapa demikian, akan tetapi masih tetap dilakukan juga setiap tahun.

Mari kita buktikan perilaku orang Batak yang merayakan Tahun Baru adalah puncak perayaan hari Natal.

Setiap kelahiran anak, orang Batak harus menjaganya siang dan malam selama tujuh hari. Ini perilaku aneh bagi yang bukan orang Batak.

Sang ibu menemani bayinya berbaring di ruang tamu, dan posisinya  membelakangi perapian dan tempat tidur disiapkan khusus.

Pada siang hari ibu-ibu datang silih berganti mengucapkan selamat kepada yang melahirkan, ada yang bawa makanan untuk kesehatan sang ibu yang melahirkan.

Pada malam hari kaum bapak yang datang rame-rame berkumpul ngobrol hingga larut malam dan sebagian hingga dini haru baru pulang untuk menjaga sang bayi, namun sebagian dari mereka  bermain kartu. Agar jangan disalah artikan “marnggap” bukan untuk “marjuji”.

Menjaga bayi yang baru lahir hingga 7 hari lamanya adalah untuk menghindari pencurian bayi, ini dilakukan jauh sebelum Kristen masuk ke tanah Batak. Ada keparcayaan bahwa bayi yang baru lahir konon katanya adalah bahan utama pembuatan “SI BIANGSA”.

Si biangsa adalah sebangsa “jin”  yang dapat digunakan oleh majikannya menjadi penjaga (pangulubalang).

Pada malam pertama kelahiran seorang bayi biasanya dibuatkan makanan untuk yang berkunjung namanya “esek-esek”.

Pada malam hari ke tujuh (terakhir)  namanya disebut “tutup anggap”, bisanya disajikan makanan lumayan enak atau tergantung kemampuan keluarga. Acara “tutup-anggap” ini biasanya tamu sangat banyak.

Semua yang hadir bersuka-ria karena kewajiban penjagaan bayi sudah berakhir. Acara ini persis acara Tahun Baru orang Batak kumpul sekeluarga bersuka ria.

Nah, kelahiran Yesus pada tanggal 24 Desember malam, orang Batak merayakan Natal tanggal 31, coba hitung jumlahnya tujuh hari kan?

Natutup-anggaphatutubu ni Jesus do hita di borngin taon baru i. Onma malo ni akka pangula ni huria di tano Batak asa boi di jalo barita nauli i.

Penulis: Nelson Sihite, SE (garudabiru_rentcar@yahoo.co.id)

(Isi tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis)