Surat 'Sakti' Ini Picu Banyak Pemuda Batak Merantau ke Jakarta

Coky Simanjuntak | Senin, 30 Mei 2016 08:05:02

Jakarta tempo dulu/blogspot
Jakarta tempo dulu/blogspot

Bangso Batak dikenal sebagai perantau terbesar di Indonesia. Pada 1930, tercatat sudah 15,3 persen halak hita yang sudah tinggal di luar kampung halamannya.

Nah, Batavia atau sekarang disebut Jakarta merupakan tujuan utama para perantau Batak.

Para perantau Batak memilih Jakarta tentu karena kota dengan perekonomian yang lebih maju ini menjanjikan kehidupan yang lebih baik.

Lance Castle dalam The Ethnic Profile of Djakarta menyebutkan orang Batak mulai menginjakkan di Jakarta pada 1907, dan semakin bertambah banyak pada masa revolusi kemerdekaan, 1945-1949.

Selain karena motivasi pribadi, semakin gencarnya perantauan orang Batak ke Jakarta ternyata juga dikarenakan sebuah pemberitahuan dalam 'Surat Keliling Immanuel’, yaitu majalah mingguan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Pengumuman itu berisi:

Boa-Boa

Manang ise sian hamoe ama manang ina, 

na naeng marsoeroe ianakkonmoena toe Betawi,

parsikkola manang mandjalahi karedjo, 

asa torang diboto hamoe baritana, 

tu ahoe ma ibana di soeroe ro. 

Alamathoe: F. Harahap, tinggal di perbatasan ni 

Sawah Besar dohot Keboen Djeroek No. 18 Betawi

Kurang lebih artinya:

Pemberitahuan

Siapa saja dari antara bapak dan ibu

yang akan memberangkatkan anaknya ke Betawi,

untuk melanjutkan pendidikan atau mencari pekerjaan,

agar lebih jelas datanglah ke alamat saya. 

Alamatku: F. Harahap, tinggal di perbatasan Sawah besar dan Kebun jeruk, no.18, Batavia

 

Lalu siapakah F Harahap? 

F Harahap tentu orang Batak yang lebih dulu merantau ke Jakarta. Dia juga yang memprakarsai kebaktian berbahasa Batak pertama di Batavia pada 20 September 1919, yang merupakan cikal bakal lahirnya Gereja HKBP Kernolong, Kwitang, Jakarta Pusat.

Di Jakarta, Harahap menyewa tiga buah rumah. Satu untuk ditempati Harahap dan dua lainnya untuk para pemuda Batak yang merantau di Batavia. Rumah inilah yang ditulis dalam pengumuman berlamat di perbatasan Sawah besar dan Kebun jeruk, Nomor 18, Batavia.

(BACA: Gereja Tertua Ini Jejak Pertama Orang Batak di Jakarta)

Uniknya, biaya sewa rumah bukan ditanggung Harahap. Tetapi, dibiayai oleh Gereformeerde Kerk (Gereja Kristen Indonesia) jemaat Kwitang melalui pendetanya, L Tiemersma.

GKI Kwitang mau membiayai sewa rumah tersebut karena banyak orang Batak yang banyak kebaktian di sana, sebelum akhirnya mereka mendirikan gereja sendiri, yakni HKBP Kernolong, yang merupakan HKBP petama di luar Sumatera.

HKBP Kernolong/Daniel Harahap

Tiemersma juga sangat dekat dengan para perantau Batak. Sebagai pendeta,  dia sangat gigih memberikan pelayanan kepada orang Batak Kristen meskipun ada larangan dari Pemerintah Hindai Belanda. 

Tidak hanya itu, Tiemersma sangat suka mendengarkan orang Batak tadi menyanyikan koor lengkap dengan empat suara.

Kembali soal pemberitahuan dalam ‘Surat Keliling Immanuel’, sesudah pengumuman tersebut, berdatanganlah para pemuda Batak Kristen ke Jakarta. Kedatangannya pun cukup lumayan, dua atau tiga orang setiap bulan. 

Pada umumnya para pemuda ini cukup rajin datang ke gereja, karena disamping ingin menghadiri kebaktian, mereka ingin juga saling bertemu satu dengan yang lain. 

Lama kelamaan jumlah orang Batak di Jakarta pun makin banyak. Sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 mencatat, jumlah orang Batak di ibukota mencapai 326.332 orang. Jumlah ini belum ditambah halak hita di Bogor, Tangerang dan Bekasi.

Luar biasa bukan kebersamaan para perantau Batak dulu. Solidaritas dan perasaan senasib ompung-ompung kita itu pula yang mungkin membuat kalian bisa ada di Jakarta sekarang.

SPONSORED
loading...