Siantar Rap Foundation, Rap-nya Anak Muda Batak

Tuntun Siallagan | Senin, 09 Januari 2017 11:01:36

Siantar Rap Foundation/istimewa
Siantar Rap Foundation/istimewa

Enam lagu di antaranya berbahasa Batak, sementara empat lagu lagi berbahasa Indonesia. Album perdana tersebut resmi dirilis pada bulan Maret 2014.

"Penggarapan materi, musik dan recording saya sendiri di studio Wenz Creation Music. Musik tardisional Batak yang ikut mengiringi yakni Taganing, Hasapi, Ogung, Sulim, dan Sarune," ujarnya.

Sukses di album perdana, pada 15 Agustus 2015, SRF kembali merilis album keduanya dengan tajuk 'Tobanese'. Album ini berisi 10 lagu yang terdiri dari delapan lagu baru dan dua lagu Batak yang sudah ada, namun diaransemen ulang menjadi nuansa hip-op.

"Album ke tiga bertajuk 'Sada Dua Tolu' dirilis Juli 2016, di sini materi-materi lagu Batak lebih berkarakter. Dari 10 lagu, delapan berbahasa Batak sementara dua lagi berbahasa Indonesia," pungkas Awenz.

Pada pertengahan 2016, SRF sempat diterpa duka. Salah satu teman kolaborasi mereka bernama Putri Chindia meninggal dunia karena penyakit yang diidapnya pada tanggal 26 Juni 2016 yang lalu.

"Benar, meninggal karena sakit. Almarhum Putri teman satu management dan teman kolaborasi. Selain beberapa lagu dia ada juga dalam album pertama bonus track album SRF," ujar Awenz

Tak mau terus larut dalam duka, dipengujung tahun 2016, SRF merilis album ke empat. Album ini sedikit berbeda karena bernuansa rohani. 

(LIHAT VIDEO: Anak-anak Muda Siantar Ini 'Ngerap' Lagu ‘Boru Ni Raja’)

Album ini diberi tajuk 'Buah Roh' dan diluncurkan resmi pada bulan November 2016 yang lalu. Dari 10 lagu yang dibawakan, lima lagu bertema Natal dan 5 lagu lagi bernuansa Religi.

"List dalam album ini ada Buah Roh, Kumenang, Kuberbahagia, Kumenari, Halalas Ni Roha Godang, Hai Dunia, Boru Sion, Natal Na Parjolo I, Nunga Jumpang Muse Ari Pesta I, Ingat Akan Nama Yesus. Lagu Boru Sion dan Natal Na Parjolo I feat Dian," terang Awenz.

Sementara itu, dalam setiap penampilannya, SRF juga selalu menambah additional player untuk melengkapi aksi panggungnya. Yang membawa musik tardisional Batak jenis Taganing adalah Eko Tambunan. Kemudian Pak Guru Manurung membawakan Seruling atau Hasapi.

Dalam perjalanan SRF, mereka juga tak luput dari dukungan penggemarnya. Ketika ulang tahun yang pertama tanggal 16 Agustus 2014, SRF membentuk Ofiicial Fans Siantar Rap Foundation dengan sebutan Srangers (Siantar Rap Rangers) kepada para penggemarnya.

Srangers tersebut terus bertambah di penjuru Nusantara terutama di tengah-tengah masyarakat Batak. Mantap!

SPONSORED
loading...