Setelah Opera Batak Mati Suri

P Hasudungan Sirait | Senin, 23 Oktober 2017 18:10:08

Opera 'O, Tano Batak' di Jong Bataks Arts Festival 2016 di Medan/batakgaul
Opera 'O, Tano Batak' di Jong Bataks Arts Festival 2016 di Medan/batakgaul



Dulu, saat menjadi Ketua Jurusan Etnomusikologi di Universitas Sumatra Utara (USU) dia pernah membuat terobosan besar. Ia menjadikan tukang becak bernama Marsius Sitohang sebagai dosen tamu di sana. Langkahnya ternyata mengundang kontroversi. Sejumlah sejawatnya menyoal, tapi ia bersikukuh.

“Marsius Sitohang bukan sebagai tukang becak saya jadikan dosen, melainkan sebagai maestro seruling,” ucapnya sebelum mengisahkan sesingkatnya pro-kontra sengit di zaman itu.

Di masa menjadi Ketua Jurusan, Rizaldi Siagian juga merangkul para pemain Opera Batak yang sudah lama menganggur karena kelompok mereka bubar dibenam zaman. Salah satu yang ia munculkan kembali ke panggung adalah Zulkaidah Harahap.

Pemain kawakan yang juga peniup seruling-serunai piawai ini sebelumnya sampai menjajakan kacang goreng di lintasan kereta api di Pematang Siantar untuk menghidupi diri, kalau tidak ‘numpang ngamen’ sambil berjualan tuak di luar gedung pesta adat di Tiga Dolok dan kitarannya.

Marsius (ia bersaudara dengan pemain kecapi kawakan Sarikawan Sitohang), Zulkaidah Harahap, dan bintang Opera Batak lainnya kembali bersinar terlebih setelah mereka turut melawat ke AS dalam program Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS), di tahun 1991.

Zulkaidah Harahap dan lawan mainnya, Alister Nainggolan, belakangan mendapat penghargaan dari negara sebagai maestro Opera Batak. Kedua seniman yang menjadi andalan PLOT, sudah tiada.

Seperti halnya Rizaldi Siagian, Sabar Situmorang—ia pemilik sejumlah gerai pakaian dan juga ‘coach’ bisnis—ikut memberi masukan untuk memajukan Opera Batak. Tips dari pengajar di sekolah bisnis ITB tersebut tentu saja sangat berharga bagi hadirin. Sebabnya?

Di masa kejayaan generasi milineal sekarang, kemasan (‘packaging’) dan cara menyampaikan (‘delivery’) bisa lebih menentukan dari mutu sajian. Kaum kreatif dari generasi pra-milineal harus mengetahui hal tersebut agar bisa mengedepankan karya-karyanya ke tengah khalayak luas.

Sabar Situmorang menggarisbawahinya dengan sangat meyakinkan. Hadirin tampaknya mengamininya; buktinya mereka acap manggut-manggut. Tips ini tentu saja bisa diterapkan siapa pun pegiat Opera Batak. Dengan begitu buah revitalisasi akan kian bernas.

(Diambil dari unggahan P Hasudungan Sirait dengan judul asli 'OPERA BATAK DI TOBA LITERACY AND ARTS FESTIVAL (TLAF)')