Setelah Opera Batak Mati Suri

P Hasudungan Sirait | Senin, 23 Oktober 2017 18:10:08

Opera 'O, Tano Batak' di Jong Bataks Arts Festival 2016 di Medan/batakgaul
Opera 'O, Tano Batak' di Jong Bataks Arts Festival 2016 di Medan/batakgaul

Opera Batak berjaya sejak tahun 1930-an dan tergusur ke ruang gelap setelah televisi hitam-putih muncul di negeri kita mulai awal 1970-an.

Tilhang Oberlin Gutom tahun 1925 mendirikan trio Tilhang Parhasapi. Langkahnya merupakan rintisan keberadaan kelompok sandiwara keliling ini. Seni Ragam Indonesia (Serindo) yang dihadirkannya pada 1928, hingga kini identik dengan grup penghibur pelanjut tradisi komedi stambul alias komedi bangsawan.

Setelah lama mati suri, Opera Batak menggeliat lagi sejak Thomson Hutasoit (Thomson Hs) dan kawan-kawannya berupaya merevitalisasinya di penggal perdana dekade 2000-an. Grup Opera Silindung (GOS) mereka, rajin berpentas pada periode 2002-2004 di Sumatra Utara. Mereka juga pernah tampil di Jakarta.

Penampilan Hardoni Sitohang dkk dalam FGD Toba Literacy and Arts Festival 2018/has

Pada 2005, bersama sastrawan utama Sitor Situmorang, Barbara Brouwe (istri Sitor), dan Lena Simanjuntak (bermukim di Jerman dan bergiat di teater penyadaran), Thomson Hs mendirikan Pusat Latihan Opera Batak (PLOT) yang berbasis di Pematang Siantar. Sebagai Direktur Artistik PLOt, ia merancang beragam produksi dan pelatihan bagi generasi muda di sejumlah kota dan kabupaten.

Revitalisasi Opera Batak telah berjalan beberapa tahun. Bagaimana caranya agar hasilnya lebih maksimal? Jawaban pertanyaan ini menjadi pokok bahasan dalam diskusi sesi ke-2 Toba Literacy and Arts Festival (TLAF), Rabu siang di Jakarta.

Setelah Thomson Hs, Rita Matu Mona (pelakon terkemuka yang menjadi andalan Teater Koma), dan Seno Joko Suyono (wartawan budaya majalah ‘Tempo’ yang juga novelis, pembuat film, dan pengajar di Jurusan Teater Institut Kesenian Jakarta (IKJ) memberi catatan, hadirin saling menimpali.

Aneka masukan yang menarik muncul termasuk dari Rizaldi Siagian, Irwansyah Harahap, dan Sabar Situmorang. Ujaran Rizaldi Siagian tentu saja patut disimak siapa saja penghirau Opera Batak. Sebabnya?