Sejarah Orang-orang Batak Pimpin KPK

Ester Napitupulu | Sabtu, 16 April 2016 18:04:29

Gedung KPK
Gedung KPK

Orang Batak dan dunia hukum ibarat andaliman yang selalu ada di kuah arsik. Tidak terpisahkan. Di mana ada profesi bidang hukum, pasti di situ ada halak hita-nya. Tak terkecuali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), lembaga yang dikenal sangar membabat koruptor.

Sejak berdiri di era Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2002, KPK sudah diisi oleh Orang Batak. Dia adalah Tumpak Hatorangan Panggabean, yang menjabat Wakil Ketua KPK periode 2003-2007.

Bisa dibilang si ompung satu ini yang mengharumkan nama Orang Batak setelah dicoreng oleh Gayus Tambunan si mafia pajak. Saat masih menjadi jaksa, Tumpak juga dikenal punya integritas tinggi. Tidak seperti jaksa Cirus Sinaga yang terima suap dari si Gayus.

Di Korps Adhyaksa, Ompung Tumpak yang dikenal sebagai sosok pekerja keras pernah mendapatkan penghargaan Satya Lencana Karua Satya XX pada 1997 dan Satya Lencana Karya Satya XXX pada 2003. 

Tumpak Hatorangan Panggabedan/Youtube

Komitmen pria kelahiran Sanggau, 29 Juli 1943 ini dalam memberantas korupsi memang tidak perlu diragukan lagi. Seperti namanya Tumpak Harotangan, dia ibarat “bantuan terang” dari Orang Batak untuk Indonesia yang sedang darurat korupsi.

Maklum saja, saat Ompung Tumpak masuk KPK, indeks persepsi korupsi Indonesia hanya 2,2 (skala 0-10). Indonesia juga cuma berada di ranking 137 dari 159 negara. Dengan kata lain, Indonesia menjadi negara ke-22 yang paling korup di dunia.

Pada 2009 atau setelah 2 tahun pensiun, Ompung Tumpak juga dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Ketua KPK. Pengangkatan Ompung Tumpak ini setelah Antasari Azhar, ketua sebelumnya, dijerat kasus pembunuhan.

Masuknya kembali Tumpak ke KPK, meski dengan status Plt, seakan melanjutkan kembali kepemimpinan Orang Batak di KPK yang kosong dalam formasi awal KPK jilid II (periode 2007-2011).

(BACA: 4 Alasan Orang Batak Banyak Berprofesi di Bidang Hukum)

Pada KPK jilid III (periode 2011-2015), memang tidak ada Orang Batak yang mengisi di kursi pimpinan. Namun, seakan berutang di periode sebelumnya, pada jilid IV (2015-2019), dua kursi pimpinan langsung menjadi milik Orang Batak. Dia adalah Basaria Pandjaitan dan Saut Situmorang.

Masuknya Basaria ke KPK sekaligus memecahkan rekor sebagai wanita pertama yang menjadi pimpinan KPK. Sebelum bergabung ke KPK, karier perempuan kelahiran Pematangsiantar, 20 Desember 1957, juga cukup ngeri. Pensiun sebagai inspektur jenderal (bintang dua) juga menjadikan inang satu ini polwan berpangkat tertinggi sepanjang sejarah Polri.

Soal rahasia kesuksesannya, Basaria memberi bocoran sedikit. Menurutnya, kunci sukses adalah kerjakanlah sesuatu pada porsinya. “Dalam kerja harus profesional, kita harus tahu kapan lembut, kapan tegas," kata Basaria.

Basaria Panjaitan/Youtube

Karier Basaria di kepolisian juga banyak dihabiskan di bidang reserse atau polisi (intelijen) penangkap penjahat. Karenanya, karier Basaria cukup jauh dari sorot kamera. Tidak seperti polwan-polwan mentel yang sering menjadi 'pemanis' di layar TV.

'Kesangaran' Basaria dapat dilihat saat berani memeriksa mantan Kabareskrim, Komjen Susno Duadji, atas dugaan pelanggaran kode etik. Anak buah Basaria pun mengakui Basaria merupakan sosok yang tegas dan tak pandang bulu dalam memeriksa orang, sekalipun terperiksa adalah bekas bosnya sendiri.

“Dia tidak bisa diajak lobi-lobi," kata kata AKBP Dewi Hartati, anak buah Basaria.

Namun di sisi lain, ujar dia, Basaria adalah sosok yang lembut pada anak buah. “Anak buahnya seperti saya jadi bisa bekerja bisa maksimal tanpa tekanan,” kata Dewi. 

(BACA: Demi Istri, Ekonom Batak Ini Pernah Menolak Jadi Menteri Jokowi)

Sama dengan Basaria, Saut Situmorang juga Orang Batak yang mencuri perhatian publik karena terpilih menjadi wakil ketua KPK. Pria kelahiran Malang, 20 Februari 1954 ini merupakan lulusan Universitas Padjajaran Bandung jurusan Ilmu Fisika.

Pada 2001, si tulang bernama lengkap Thony Saut Situmorang ini melanjutkan program magister manajemen di Universitas Kristen. Kemudian gelar doktornya didapat di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). 

Saut Situmorang/Youtube

Saut juga pernah berkarier di Badan Intelijen Negara (BIN) sejak tahun 1987. Meski menjadi anggota BIN, Si Tulang satu ini tidak seperti 'Intel Melayu' yang suka pamer ke depan publik. Atau meng-upload SK pengangakatan BIN di media sosial macam si politikus dan pengusaha muda itu (Tahulah kau siapa dia….)

Tulang Saut juga mencirikan seorang Batak yang pekerja keras dan pantang menyerah. Empat kali gagal dalam seleksi calon pimpinan KPK tidak membuat mantan dosen di Universitas Indonesia (UI) ini putus asa.

Seperti kita tahu, pada percobaan kelima dia berhasil lulus seleksi dan menyingkirkan sejumlah nama besar.