Rumor Batak Makan Orang Ternyata untuk Menakuti Penjajah Asing

Chandra Siagian | Kamis, 15 Desember 2016 18:12:44

Orang Batak tempo dulu/P. Orchard, 2001
Orang Batak tempo dulu/P. Orchard, 2001

Cerita orang Batak suka makan orang bukanlah barang baru. Sejumlah dokumen perjalanan misionaris Inggris, seperti Richard Burton dan Nathaniel Ward, di Tano Batak bahkan membenarkan bahwa halak kita dulu adalah kanibal.

Dalam memoarnya, Marcopolo juga pernah menuliskan mengenai orang-orang pegunungan pemakan orang. Cerita serupa juga dituliskan oleh J. Anderson, staf dari British India Company (sejenis VOC milik Inggris) saat mengunjungi Deli dan Batubara pada 1823.

Namun dari sejumlah cerita itu, penelitian karya Profesor Masashi Hirosue dari Universitas Rikkyo, Tokyo, cukup menjernihkan rumor negatif terhadap orang Batak tersebut.

Dalam 'The Memoirs of the Toyo Bunko’ (2005), Masashi menjelaskan bahwa kabar orang Batak suka makan orang terdengar santer di wilayah pesisir dan pelabuhan.

”Bagi orang-orang asing itu yang tidak pernah memasuki pedalaman melalui kota-kota pelabuhan, cerita-cerita seperti itu terdengar sangat terpercaya. Marcopolo mungkin juga mendapatkan informasi tentang ‘kanibalisme’ orang Batak dari penguasa di pesisir atau para pengiring penguasa pesisir,” tulis Masashi.

(BACA: Benarkah Orang Batak Dulu Suka Makan Orang?)

Sebaliknya, para pedagang dari Tamil di India Selatan yang menetap dan membuat pos dagang sampai ke pedalaman Batak pada abad 11 hingga abad 12, tidak pernah menulis tentang kanibalisme. 

Begitu juga orang Portugis, Mendez Pinto, yang memasuki 'Kerajaan Bata' di sekitar pedalaman Singkil dan ikut perang dengan melawan Kerajaan Aceh saat itu, tidak pernah menuliskan soal kanibalisme. Dia justru menuliskan soal kekejaman Raja Aceh terhadap musuhnya. 

Pertanyaan selanjutnya: mengapa mereka yang sudah masuk ke pedalaman Batak tidak pernah bercerita tetang kanibalisme, sedangkah yang cuma sampai pesisir begitu heboh dengan cerita orang Batak makan orang?

Menurut Leonard Andaya dalam ‘Leaves of the Same Tree’ (2008), bukan tanpa sebab orang Batak menjadi topik hangat pembicaraan orang-orang di pesisir.

“Ketertarikan orang asing terhadap Batak dapat dijelaskan oleh fakta bahwa di hutan-hutan/tombak di tanah airnya/Bona Pasogit tumbuh dua produk yang sangat berharga (pada saat itu) di pasar internasional: kamper/kapur barus dan kemenyan/haminjon,” tulis Andaya.

Maklum saja, saat itu kemenyan banyak dipakai sama orang asing sebagai minyak wangi, beberapa jenis dupa, penyedap rasa pada makanan, dan bahan obat. 

Sementara kamper digunakan sebagai penyedap rasa makanan dan untuk mengobati keseleo, bengkak serta radang. Bahkan Andaya menulis bagaimana di Tiongkok harga kemenyan dan kapur barus setara dengan harga emas. Luar biasa kan Tano Batak itu..

Nah, dua komoditas setara ‘emas’ tadi menjelaskan pentingnya memahami hubungan orang pesisir  dengan orang Batak dulu. 

(BACA: Benarkah Misionaris AS Munson & Lyman Tewas Dimakan Orang Batak?)

Menurut Masashi, “dalam rangka menarik pendatang/pedagang asing, penguasa-penguasa pesisir harus membangun hubungan yang kuat dengan orang-orang Batak demi menjamin pasokan hasil hutan, tambang dan pangan yang stabil.”

Namun kita pasti akan bertanya kenapa orang Batak dulu tidak berdagang langsung saja dengan orang asing tersebut tanpa melalui perantara? 

Jawabannya, menurut Masashi, karena bagi orang Batak dulu, orang asing adalah makhluk yang sangat berbahaya, karena mereka sering membawa penyakit sambil membawa paksa mereka sebagai budak.

Namun setelah daerah pesisir Sumatera dijajah Pemerintah Kolonial pasca-abad ke-19, para ‘penguasa' Batak sendiri yang lalu mengambil peran perantara dengan mempropagandakan kampanye desas-desus praktik kanibalisme dalam upaya mencegah penjajah masuk ke Bona Pasogit.

Hal ini juga dijelaskan Andaya mash dalam 'Leaves of the Same Tree’.

“Rincian mengerikan praktek kanibalisme mungkin telah diberikan oleh Batak sendiri dalam upaya untuk mencegah orang asing menembus ke tanah mereka,” tulis Andaya. 

"Sejak awal, oleh karena itu, kanibalisme menjadi terkait dengan identitas Batak dan memiliki efek yang diinginkan untuk membatasi masuknya Eropa yang sampai abad kesembilan belas.” 

Nah, dari riset Masashi tersebut dapat disimpulkan orang Batak rela disebut pemakan orang demi alasan ekonomi (kontrol perdagangan kemenyan dan kamper oleh penguasa pesisir) dan alasan politik agar penjajah Belanda tidak masuk ke Tano Batak, kendati akhirnya mereka melakukannya juga.

Ya, rumor orang Batak makan orang itu cuma demi menakut-nakuti Si Botar Mata alias orang asing….