[RESENSI BUKU] Adat dan Perang dalam Budaya Batak

Indah Nova Ida Manurung | Minggu, 31 Juli 2016 17:07:18

Novel 'Mangalua' karya Idris Pasaribu
Novel 'Mangalua' karya Idris Pasaribu

Judul Buku: Mangalua

Penulis : Idris Pasaribu 

Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Cetakan: I, 2015

Tebal : iv + 296 halaman

ISBN: 978-979-461-974-2

Huta Porlak dengan mudah menaklukkan Huta Bariba ataupun huta (kampung) lainnya. Masih segar dalam ingatan Jogal, sejak ia masih kecil, huta mereka selalu menang berperang melawan huta-huta di sekitarnya. Terkadang, hanya untuk membuktikan apakah pemudanya masih tangguh, perang perlu diadakan. Akibatnya, tak sedikit istri yang kehilangan suami, dan anak yang kehilangan ayah. 

Bagi Jogal, perang selama tiga generasi adalah pekerjaan yang sangat melelahkan. Maka, Jogal berdiri untuk menyatukan dua huta—Huta Porlak dan Huta Bariba—yang belum menemui titik temu untuk berdamai. Ia berniat menghentikan perang dengan cara menikah dengan putri musuh bebuyutan ayahnya dari Huta Bariba, Boru Anting Na Rumondang. Niatnya tersebut membuat kepala ayahnya, Mangaraja Parhujinjang, mau pecah hingga perlu mengumpulkan penatua-penatua huta untuk berdiskusi. 

(BACA: Seks di Luar Nikah Menurut Adat Batak Toba)

Jogal seperti artinya dalam bahasa Batak: keras kepala, punya keinginan yang tak boleh dibantah. Demikian karakternya digambarkan, persis. Ia kukuh untuk menikah dengan Boru Anting sekalipun Mangaraja Parhujinjang berkata bahwa Huta Porlak dan Huta Bariba hanya bisa bersatu jika langit dan bumi bisa bersatu. Bagi Jogal, mangalua adalah cara untuk menjalankan misi perdamaian.

Kawin lari

Sepanjang membaca Mangalua, pikiran kita dibawa bertamasya ke kampung dan masa lalu yang sangat menghormati leluhur serta taat pada adat istiadat. Adat adalah segalanya, lebih berharga dari harta, takhta, atau apa pun yang paling berharga. Jika sudah tentang adat, seorang Mangaraja Parhujinjang pun harus rela berlutut di hadapan raja yang selalu kalah terhadapnya, disaksikan semua rakyat (hal 113). Bagi seorang raja, tentu tak gampang melakukannya. Tetapi, begitulah kalau adat sudah bicara walau banyak yang menilai itu adalah cara berdiplomasi. 

Bukan karena tak sanggup membayar sinamot (mahar) yang ditawarkan oleh pihak perempuan. Mangalua adalah cara yang dipilih Jogal untuk menunaikan misi karena tak ada persesuaian antara dia dan pihak keluarga Boru Anting. Adalah hal membanggakan bagi Raja Tumpak dari Huta Bariba saat menolak mentah-mentah lamaran Jogal terhadap putrinya.

Lamaran sebenarnya hanya basa-basi untuk Jogal karena ia sudah menebak kalau ia pasti ditolak. Lantas, Boru Anting dilarikan (mangalua). Sesuai adat, seseorang yang mangalua harus membayar denda adat dan memakan proses lama sebab mangalua dianggap tindakan ”tak sopan”. Bagi masyarakat Batak, semua perempuan adalah ”putri raja” yang harus dijemput secara hormat dari keluarga atau orangtuanya sebelum ritual pernikahan.

(BACA: Dua Hari Mencari Jodoh Batak lewat ‘Gondang Naposo’)

Dengan denda adat yang harus dibayar pihak Jogal dan Mangaraja Parhujinjang, Raja Tumpak bebas menjejerkan tuntutan berupa 100 ringgit emas, 7 ekor kerbau, datang menyembah dengan cara manuruk-nuruk, dan prasyarat lainnya. Ia tahu betul memanfaatkan adat untuk memperlihatkan seantero huta bahwa Mangaraja pun bisa lebih rendah posisinya dibandingkan dia.

Dalam novelnya, Idris Pasaribu berupaya untuk tidak datar-datar saja dalam berkisah. Seketika setelah Jogal mewarisi takhta Mangaraja Parhujinjang, Jogal mengeluarkan titah agar semua budak dibebaskan. Mengejutkan, sebab sejak awal, tak diceritakan bahwa Huta Porlak memiliki banyak budak dan tahanan. Jogal menggunakan kekuasaan sebagai raja untuk menghapus perseteruan. Dari sinilah pergerakan politik dilakukan.

Jogal pintar membaca situasi saat orang-orang Eropa masuk ke Hindia Belanda dan mencuci otak orang kampung. Belanda sengaja membuka luka lama antarkampung karena peperangan yang pernah terjadi selama beberapa generasi. Politik licik adu domba Belanda berhasil merasuki rakyat karena gengsi antarkampung dinaikkan. Devide et impera. Untuk melancarkan aksinya, Belanda mengangkat mertua Jogal menjadi Nagari tepat di hari penguburan Mangaraja Parhujinjang. Tak cukup sampai di situ, Boru Anting yang telah sah menjadi istrinya sedang hamil diambil kembali sehingga perang antarkampung tak terelakkan. Misi perdamaian kandas.

(BACA: 4 Alasan Pria Batak Akhirnya Memilih Boru Jawa)

Oleh Idris, sikap Jogal yang keras kepala dan memiliki keinginan yang tak boleh dibantah ditegaskan kembali lewat sikap yang mengikuti jejak Sisingamangaraja XII—tak pernah mau berunding dengan Belanda. Ia tahu Belanda licik. Maju terus walau akhirnya takluk di tangan Belanda yang punya balatentara terlatih. Jogal ditangkap dan diasingkan pada masa Belanda, lalu keluar dari pengasingan pada masa Jepang menduduki Indonesia. Ia meninggal dengan mengenaskan, tanpa adat penguburan megah layaknya seorang mangaraja.

Idris Pasaribu menulis polemik Jogal dan sekelilingya dengan emosional. Suatu usaha membuat pembaca larut dalam runtut peristiwa dengan adanya konflik-konflik yang ada. Novel ini jauh dari tafsir awal bahwa Mangalua adalah novel percintaan dua insan manusia. Mengingat arti ”mangalua” itu sendiri. Kisah cinta antara Boru Anting dan Jogal justru hampir tak ditemui di novel Mangalua.

Budaya, cinta, dan politik

Idris memperkenalkan Batak secara detail dan menyeluruh untuk mendeskripsikan adat istiadat dan bentuk-bentuk perlawanan Batak pada masa penjajahan. Istilah-istilah Batak diperkenalkan dengan pemilihan nama-nama tokoh yang karakternya adalah makna nama masing-masing. Sebut saja: Jogal, artinya keras kepala dan memiliki keinginan yang tak boleh dibantah; Monang Marhata, artinya menang saat berdebat; Saut Mardame, artinya juru damai; dan lain sejenisnya. Hal ini adalah cara cantik Idris mengenalkan beberapa istilah daerah mengingat bahasa Batak bukanlah bahasa yang populer di negeri ini. 

Lewat Mangalua, kita belajar budaya dan politik serta kearifan lokal. Tak sulit mengetahui kedudukan seseorang pada masa itu. Tak perlu bertanya banyak tentang kedudukan seseorang pada sebuah ritual. Melihat jenis ulos yang dikenakan dan posisi duduk pada saat ritual saja, sudah dapat tertebak. Dari jumlah anak tangga, akan ketahuan apakah pengisi rumah keturunan raja atau keturunan budak. 

(BACA: Tak Mampu Bayar ‘Sinamot', Ini yang Dilakukan Pria Batak Dulu)

Idris menggambarkan konflik agama tidak sedetail ia menggambarkan budaya dan politik. Idris mengesampingkan konflik di akhir cerita karena menyangkut agama. Konflik agama merupakan hal sensitif. Dari sini terlihat, Idris menaruh perhatian besar pada sejarah dan budaya Batak, tanpa mengusik agama.

Bagaimanapun, Idris Pasaribu telah memilih cinta untuk merangkai berbagai kisah, termasuk sejarah, budaya, agama, dan politik melalui Mangalua. Jika tidak demikian, Mangalua akan berubah menjadi buku teori karena transkripsinya yang lengkap. 

Pertanyaan yang kemudian muncul setelah semua transkripsi lengkap terbaca, sepanjang penelusuran novel, ”Di mana letak Huta Porlak dan Huta Bariba? Apakah penulis masih belum menemukan atau sengaja menyembunyikannya?” 

Indah Nova Ida Manurung 

Boru Batak, Mahasiswa Pascasarjana Universitas NegeriJakarta

(Resensi buku ini disadur sepenuhnya dari Harian Kompas, 30 Juli 2016)