Ramban Naposo Batak Toba, ‘Melarikan’ Teman Sebelum ke Pelaminan

Alex Siagian | Selasa, 29 November 2016 14:11:20

Ilustrasi Ramban Naposo
Ilustrasi Ramban Naposo

Dalam tahapan pernikahan adat Batak Toba, muda-mudi (naposo) yang merupakan teman calon kedua mempelai, jarang sekali atau tidak pernah dilibatkan. Ini mungkin kerena mereka belum menikah sehingga dianggap belum layak tampil dalam acara adat yang belum pernah dilaluinya.

Namun, tahukah kalian bahwa dalam masyarakat Batak Toba dulu, naposo telah berperan dalam acara adat demi menyukseskan pernikahan teman-temannya. 

Tradisi budaya ini disebut Ramban Naposo, yang diperankan oleh naposo, tanpa melibatkan orangtua. 

Lewat hasil penelitiannya 'Ramban Naposo Batak Toba di Parsoburan’, Benny Rafael Pardosi, yang merupakan guru Sosiologi di SMA Negeri 1 Habinsaran memaparkan, dahulu Ramban Naposo ini adalah semacam kumpulan (punguan) para naposo di setiap desa (huta). 

Parpunguan naposo ini biasanya memiliki markas tempat berkumpul yang disebut Bagas Parpunguan. Biasanya rumah orangtua yang sudah  janda/duda (mabalu) dipilih sebagai tempat berkumpul.

Peran Ramban Naposo ini dalam budaya batak akan terlihat saat ada rencana seorang pemuda untuk menikah. Dahulu, dalam suatu desa biasanya hanya didominasi satu marga saja, jadi pernikahan antar pemuda selalu terjadi dari desa yang satu ke desa yang lain. 

Benny Rafael Pardosi (kiri) sedang memaparkan hasil penelitiannya/batakgaul

Jika seorang pria berniat untuk menikahi seorang perempuan dari desa yang lain, maka ia akan mengajak temannya sesama pemuda dari punguan Ramban Naposo di kampungnya untuk menemui Ramban Naposo di kampung si perempuan yang hendak ia nikahi. 

Namun sebelum itu, si laki-laki terlebih dahulu akan meminta izin dan restu kepada orangtuanya. Para pemuda dari Ramban Naposo pihak pria ini biasanya akan berangkat dari desa mereka saat matahari terbit menuju desa tempat tinggal si perempuan. 

Setibanya di desa si perempuan itu, mereka akan menuju Bagas Parpunguan Ramban Naposo di desa itu. Tujuannya untuk menyampaikan niat mereka kepada Ramban Naposo di desa itu.

Pada proses inilah Ramban Naposo berperan dalam adat , yakni ketika kedua Ramban Naposo dari dua desa ini saling berbicara soal niat si pria untuk menikahi si perempuan. 

"Ramban Naposo dari pihak laki-laki akan menyampaikan niat mereka, untuk mempersunting wanita dari Ramban Naposo di desa itu. Dan mereka akan melakukan pembicaraan adat naposo di Bagas Parpunguan di desa si perempuan," sebut Benny yang ditemui batakgaul.com saat pameran kerajinan pelajar se-Kabupaten Tobasa, di Lapangan Sisingamangaraja, Balige, Selasa (29/11).

Ilustrasi pasangan Batak Toba/ IG: laketobawedding

Untuk meneliti Ramban Naposo ini, Benny mengaku telah mewawancarai lebih dari 10 orangtua di Kecamatan Habinsaran, Toba Samosir, Sumatera Utara. Sepuluh orang itu sempat menjadi para peserta Ramban Naposo sekira 50 tahun lalu.

Dalam pembicaraan itu, lanjut Benny, Ramban Naposo dari pihak perempuan akan menyampaikan beberapa permintaan mereka, dan permintaan itu wajib dituruti oleh si pria. 

"Dalam adat itu, Ramban Naposo dari pihak perempuan akan meminta sejumlah uang untuk mereka. Uang itu disebut sebagai uang pembuka harbangan ni huta (gerbang masuk ke desa), kemudian untuk dongan sapodoman (teman dekat) si perempuan, dan untuk saudara/i si perempuan itu sendiri," sebut Benny.

Pihak laki-laki diwajibkan membayar semua yang diminta oleh Ramban Naposo dari pihak perempuan. Setelah semua permintaan dipenuhi, maka si perempuan akan meminta dua orang dongan sapodoman untuk menemaninya berangkat mengikuti si laki-laki atau calon suaminya. 

Dongan sapodoman itu biasa disebut sihutti koper (pembawa barang-barang), dan pihak si laki-laki juga wajib membayar uang kepada kedua sihutti koper itu. Selain sebagai adat, lanjut Benny, kesempatan ini juga sering kali dimanfaatkan oleh kaum pemuda untuk melirik calon istri.

"Jadi tidak sekadar membicarakan adat naposo, kesempatan ini juga digunakan oleh kaum muda untuk melirik wanita-wanita di kampung itu,” papar alumnus FISIP USU ini.

Sebelum dibawa laki-laki ke desanya, si perempuan akan pulang sebentar ke rumahnya untuk menaruh sepucuk surat di dalam beras, agar mudah ditemukan orangtuanya. Isinya, dia telah dibawa laki-laki untuk dinikahi. 

Selain surat, perempuan jika akan menyelipkan uang di dalam gulungan surat itu yang merupakan pemberian si laki-laki. 

"Jadi perempuan akan menyelipkan surat sebagai pesan bahwa ia telah dibawa oleh laki-laki untuk dinikahi. Di dalam surat itu akan dituliskan nama, marga dan desa si laki-laki yang membawanya. Di sana juga nanti akan diselipkan sejumlah uang dari si laki-laki," lanjut Benny.

Saat matahari terbit, maka si pria bersama Ramban Naposo dari kampungnya, dan juga si perempuan dan sihutti koper akan berangkat ke desa si laki-laki. 

"Jadi pada zaman dulu, perjalanan dari desa yang satu ke desa yang lain bisa sampai satu harian berjalan kaki. Meski di tengah jalan banyak kemungkinan bahaya, termasuk ancaman dari binatang buas, tetapi Ramban Naposo dari desa si perempuan bertanggungjawab dan menjamin keselamatan si laki-laki dalam perjalanannya hingga ke desa mereka, sebab Ramban Naposo dari pihak perempuan itu telah dibayar," lanjut Benny menjelaskan.

Jika si laki-laki bersama rombongan dan calon istrinya telah tiba di desa mereka, maka adat Ramban Naposo ini pun sudah selesai. 

Peran Orangtua 

Selanjutnya adalah adat dari para orang tua. Dalam hal ini, orang tua si perempuan yang diyakini telah mengetahui kepergian dan maksud putrinya melalui surat yang diselipkan di beras akan langsung menyusul bersama para orang-orang tua dari desa itu.

"Jadi setelah si laki-laki tiba di kampungnya, esoknya orang tua si perempuan bersama para orang tua lain akan menyusul ke kampung si laki-laki, dalam budaya batak itu disebut pangihut-ihut," lanjut Benny.

Budaya Ramban Naposo ini, dikatakan Benny, terakhir kali ada di Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir, sekira tahun 1970-an. 

Dalam budaya ini, Ramban Naposo dari pihak laki-laki disebut sebagai Silehon Ramban (pemberi ramban/benda-benda) dan Ramban Naposo dari pihak perempuan disebut Sijalo Ramban (penerima ramban).

“Sejak (1970-an) itu hingga sekarang tidak ada lagi Ramban Naposo di Habinsaran," sebutnya.

Menghilang

Menurut Benny, hilangnya budaya Ramban Naposo ini dipengaruhi oleh perkembangan zaman, termasuk perbaikan jalan antardesa.

"Jadi kalau dulu, setiap desa itu masih didominasi satu marga saja, kemudian jarak tempuh dari desa yang satu ke desa yang lain juga berjauhan,” ujarnya. 

Tak hanya itu, ujar Benny, dulu setiap kampung selalu punya gerbang, dan setiap prang tidak sembarangan jika ingin masuk ke kampung orang. 

"Namun kalau sekarang tidak seperti itu lagi, menurut saya itulah faktor yang menyebabkan hilangnya budaya muda/i ini," sebut Benny.

Meski budaya dan adat naposo ini nyaris hilang, namun Benny yang merasa budaya ini berharga bermasuk untuk menulisnya sebagai bentuk warisan budaya naposo.

"Kalau sepengetahuan kita, kaum muda itu tidak pernah terlibat dalam adat, dan itu salah. Inilah buktinya jika adat naposo itu dulunya pernah berlaku, namun sekarang budaya ini sudah hilang,” kata Benny. 

Meski tidak harus dihidupkan kembali, menurut Benny, Ramban Naposo perlu diingat sebagai bentuk kekayaan budaya batak. 

"Karena itu saya berniat menulis budaya Ramban Naposo ini sebagai bentuk warisan budaya kita," ujar Benny mengakhiri.