Pesta Kawin Adat Batak Bisa Dipersingkat 3,5 Jam, Ini Caranya!

Coky Simanjuntak | Senin, 20 Februari 2017 13:02:21

Ilustrasi pesta kawin adat Batak Toba/kpl
Ilustrasi pesta kawin adat Batak Toba/kpl

Sudah bukan hal aneh jika pesta kawin adat Batak Toba (pesta unjuk) itu memakan waktu yang sangat lama. Bahkan, bisa lebih dari 7 jam. 

Tujuh jam itu cuma di gedung saja lho. Belum lagi marsibuha-buhai (acara pembuka di rumah parboru) dan pemberkatan di gereja yang dimulai sejak pagi.

Gak kebayangkan kan jika pengantin (wanita) yang sudah bangun sejak subuh untuk ke salon, baru bisa istirahat pada malam harinya. Tentunya sangat menyita tenaga bukan…

Nah, sebenarnya ada cara untuk mengefektifkan pesta kawin adat Batak sehingga mempersingkat waktu. 

Dalam bukunya ‘Perwakinan Adat Dalihan Natolu’, Richard Sinaga (1998) memaparkan 11 cara mempersingkat waktu sehingga pesta di gedung bisa dilaksanakan cukup dengan waktu 3,5 jam atau separuh waktu biasa.

Berikut 11 cara tersebut:

 

1. Paling Lambat Pukul 12.00 Pengantin Masuk ke Pelaminan

Caranya, punguan marga melalui anggota bidang adat mendorong suhut berkoordinasi dengan besannya dan pihak gereja agar pengantin bisa ke naik pelaminan paling lambat pukul 12.00 Wib. 

Perlu diperhitungkan jarak dan potensi kemacetan dari gereja ke gedung atau lokasi pesta unjuk.

 

2. Parboru Tidak Perlu Disambut Khusus oleh Paranak Saat Masuk Gedung

Pengantin masuk ke pelaminan hendaklah diudurhon bersama oleh paranak dan parboru. Begitu juga keluarga paranak dan parboru sudah ada di tempat masing-masing menyambut pengantin tanpa membedakan taruhon jual dan dialap jual.

Hanya saja, kata Sinaga, bila taruhon jual, dari pihak paranaklah protokol mempersilakan berdiri di tempat untuk menyambut pengantin masuk ke pelaminan. 

“Sebaiknya tidak perlu ada acara penyambutan khusus oleh paranak kepada parboru di acara taruhon jual,” kata Sinaga.

 

3. Hula-hula yang Disambut Masuk Gedung Dibatasi

Menurut Sinaga, hula-hula yang disambut masuk ke gedung cukuplah rombongan hula-hula sijalo upa tulang dan hula-hula sijalo tintin marangkup, yaitu saudara istri parboru dan saudara istri paranak.

Selebihnya, hula-hula lainnya bisa langsung masuk gedung dan menduduki tempat yang disediakan. Agar tidak salah paham, kata Sinaga, sebaiknya hal ini diungkapkan suhut saat menyampaikan undangan ke hula-hula.

Sedangkan, kalau masih ada yang membawa dengke siuk, sebaiknya diserahkan ke meja penerima tamu. Namun, demi kepraktisan, dengke ini sebaiknya diganti dengan uang.

Kalau hal ini diterapkan, waktu yang bisa dipersingkat adalah 20 menit.

Lalu, apa selanjutnya?