Opini Hojot Marluga: 'Kartini-Kartini' Batak

Hojot Marluga | Jumat, 21 April 2017 19:04:15

Ilustrasi wanita Batak/batakgaul
Ilustrasi wanita Batak/batakgaul


Dan, mengapa sekarang banyak perempuan Batak yang menuntut harta warisan lewat jalur hukum formal?

Sesungguhnya masih harus ditemukan jawabannya. Tetapi, dari hipotesa sementara oleh karena tak setara. Apalagi ruang adat sempit untuk jalan menemukan keadilan. Tak heran banyak perempuan Batak berperkara di pengadilan dengan saudaranya laki-laki.

Ini kritik untuk budaya Batak juga. Budaya mestinya dinamis dan adaptif terhadap perubahan. Akhirnya, mari kita menerima otokritik ini, sebagaimana umumnya sifat orang Batak, gengsi membumbung, kurang menghargai borunya.

Berjubel sejarah  soal gender, utamanya perempuan Batak yang menuntut kesetaraan. Boru, oleh karena masih relatif kurang diberi tempat dibandingkan dengan laki-laki, termasuk dalam tataran adat.

Selamat hari Kartini.

(Hojot Marluga, jurnalis dan penulis puluhan buku & Humas di Kantor Pengacara)