Mengenal Stempel Perjuangan Sisingamangaraja XII

Chandra Siagian | Jumat, 31 Maret 2017 13:03:29

Stempel Perjuangan Sisingamangaraja XII
Stempel Perjuangan Sisingamangaraja XII

Sebagai bangsa besar yang menghargai jasa-jasa pahlawannya, Orang Batak pastilah mengenal Ompu Pulo Batu alias Sisingamangaraja XII. Banyak halak hita sekarang pasti mengenal sosoknya sebagai seorang Pahlawan Nasional yang dikenal gigih melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda. 

Bahkan karena gigihnya perlawanannya, Ompu Pulo Batu menjadi Singamangaraja pertama yang berhasil menyatukan banyak orang Batak untuk melawan penjajah Belanda. Dia juga pernah mencoba untuk mengajak orang-orang Indonesia asli yang kerja sebagai serdadu Belanda (KNIL) biar mereka memberontak. 

Setelah dua kali (1878 dan 1883) kalah bertempur, Sisingamangaraja XII pun melanjutkan perang gerilyanya dari hutan belantara Dairi, sampai akhirnya kalah juga ditembak patroli Belanda tahun 1907.

Nah, selain perjuangan melawan penjajah tersebut, tahukah kalian kalau Sisingamangaraja XII juga dikenal dengan beberapa hal terkait dengan budaya baca-tulis. Jadi, biarpun kalah, Si Singamangaraja XII tetap saja populer di antara halak hita pada saat itu.

Malah dia dijadikan simbol perlawanan terhadap penjajah pada saat itu. Karena gigihnya melawan penjajah, makanya Si Singamangaraja XII tidak hanya diakui/dihormati sama halak hita yang berada di cakupan pengaruhnya atau Tano Ni Sumba (Samosir Utara, Toba Holbung, Habinsaran, Humbang, dan Silindung) saja, tapi juga di luar Tano Ni Sumba. 

Di buku “Sejarah Perkembangan Tulisan Batak” tahun 2009  Uli Kozok menjelaskan bahwa 

“Berkat kharismanya dan terangkat oleh gelombang perasaan anti-Belanda Singamangaraja XII bukan saja diakui di  kampungnya sendiri, yaitu di Tano ni Sumba, melainkan juga di Tano ni Lontung, dan bahkan di daerah luar Toba, seperti Dairi, Simalungun, dan Karo.”

Karena popularitasnya tadilah makanya Sisingamangaraja XII menjadi Orang Batak pertama yang punya pengaruh yang begitu luas, sampai dia pun merasa perlu membuat stempel untuk memperlihatkan kepada dunia luar bahwa statusnya setara dengan raja-raja lain di Sumatera. 

Bagaimana ceritanya?