'Marsiadapari', Gotong Royong Ala Orang Batak

Tansiswo Siagian | Selasa, 28 Februari 2017 06:02:56

Ilustrasi/istimewa
Ilustrasi/istimewa

Orang Batak sejak dahulu luar biasa visioner. Bayangkan saja, ratusan tahun lalu sebelum Indonesia merdeka, di Tano Batak sudah membumi sifat gotong royong.

Bahkan gotong royong ini sudah menjadi hukum kehidupan (law of life) orang Batak. Keren kan…

Dalam Bahasa Batak, gotong royong disebut marsiadapari. Berasal dari kata mar-sialap-ari yang berarti: kita berikan dulu tenaga dan bantuan kita kepada orang lain baru kemudian kita minta dia membantu kita. Maknanya pun dalam kali kawan: tanam dulu baru petik kemudian!

(BACA: JK: Orang Batak Tak Hanya Omong Keras Tapi Juga Pekerja Keras!)

Siadapari, marsialapari, marsirimpa, atau marsirumpa, apapun sebutannya, prinsipnya adalah gotong royong. Marsiadapari adalah gotong royong yang dilakukan beberapa orang secara serentak (rimpa atau rumpa) di ladang masing-masing secara bergiliran, agar pekerjaan yang berat dipikul bersama hingga meringankan beban kumpulan.

“Dokdok rap manuhuk, neang rap manea (berat sama dipikul, ringan sama dijingjing,” begitulah salah satu prinsip marsiadapari.

(BACA: 4 Alasan Perantau Batak Pantang Pulang Sebelum Jadi ‘Orang’)

Pelaksanaan marsiadapari ini pun tidak hanya saat bertani (mangula) di ladang (hauma), tetapi juga pada semua bidang kegiatan orang Batak. Seperti mendirikan rumah (pajongjong jabu), kemalangan, pesta dan lain sebagainya.

Luar biasanya lagi, marsiadapari ini menebus kelas-kelas ekonomi. Miskin atau kaya (na mora manang na pogos), kuat atau lemah (na gumugo manang na gale) semua saling member hati untuk dapat meringankan beban anggota kumpulannya.

“Sisolisoli do uhum, siadapari do gogo,” begitulah hukum dasar marsiadapari. Artinya, kau beri maka kau akan diberi. Hal ini berlaku untuk sikap, tenaga dan juga materi.

(BACA: 3 Alasan Anak Muda Batak Harus Sukses di Perantauan)

Dengan hukum dasar ini, semua akan dengan senang hati secara bersama-sama memikul beban yang ada pada kumpulannya. “Tampakna do tajomna, rim ni tahi do gogona”. Yang berat terasa ringan, semua senang dan bersemangat memberikan bantuan.

Sebab, mereka sadar suatu mereka saat pasti membutuhkan perlakuan seperti itu. Indah sekali kan marsiadapari itu, lae dan itoku naposo Batak?

Pertanyaannya sekarang apakah marsiadapari masih ada dalam kehidupan halak Batak di zaman modern ini?