'Maradat' YES, 'Marpesta' PIKIR DULU...

Tansiswo Siagian | Selasa, 21 Februari 2017 08:02:07

Ilustrasi/Adi (Toba Art)
Ilustrasi/Adi (Toba Art)

Ya memang begitu. Itulah sebabnya ada umpasa Batak mengatakan: “Sinuan bulu, sibahen na las. Sinuan partuturon sibahen na horas”.

Horas dalam konteks ini adalah menyenangkan semua pihak, tidak menekan satu pihak, atau memaksakan kehendak sepihak, atas tata cara dan biaya adat itu.

Tetapi mencari solusi atas banyak perbedaan dan kekurangannya. “Aek godang tu aek laut, dos ni roha do sibahen na saut”, urun rembuk, diskusi dan saling memahami mencari kesepakatan bersama.

Jika pun misalnya pihak lelaki disebut “paranak” atau pihak perempuan “parboru” kurang berkeadaan “parsinamot”, maka tidak boleh satu pihak memaksa pihak lain sepakat atas keinginannya sendiri.

(BACA: Berapa Sinamot yang Pantas Diterima Boru Batak?)

Tetapi pihak yang lebih marsinamot (paradongan) baik itu parboru atau paranak, haruslah melihat lebih dalam kondisi ekonomi keluarga yang segera menjadi “tutur”/familinya.

Itulah dalam umpasa Batak disebut “jamot songon siida huta, manat songon si ida gomit, atau ndang diida mata alai diida roha”. Dengan begitu muncul rencana “mangondihon” atau membela/melindungi calon menantu (hela atau parumaen) dan keluarganya yang segera menjadi kerabat “tutur, tondong” selamanya ke hari depan.

Lalu mengapa saat ini banyak tuduhan mengatakan bahwa adat Batak itu memberatkan, ribet dan tuduhan negatif lainnya?