'Maradat' YES, 'Marpesta' PIKIR DULU...

Tansiswo Siagian | Selasa, 21 Februari 2017 08:02:07

Ilustrasi/Adi (Toba Art)
Ilustrasi/Adi (Toba Art)

Dewasa ini anak muda (naposo) Batak banyak yang kurang sreg dengan kata 'adat Batak'. Dalam pikirannya yang muncul adalah biaya tinggi, ribet, bertele-tele dan makan waktu banyak.

Who…pemikiran itu bisa benar dan bisa salah lho. Tapi memang mayoritas naposo Batak saat ini baik di desa maupun di perkotaan menjadi hilang ‘syoor'-nya membayangkan adat Batak.

(BACA: Pesta Kawin Adat Batak Bisa Dipersingkat 3,5 Jam, Ini Caranya!)

Wajar, sebab yang dilihatnya adat Batak itu menjadi sebuah beban dalam hidupnya terlebih bila dia segera akan menikah sesama orang Batak.

Kebanyakan kaum muda Batak menganggap adat Batak itu memberatkan secara ekonomi. Mulai perlengkapan pakaian, sampai aksesoris dalam acara adat itu.

Dalam pikirannya, tata cara adat itu bertele-tele, belum lagi fameo boru Batak mahar 'sinamot'-nya pasti tinggi. Ditambah dengan biaya pestanya yangamang oi selangit.

(BACA: Tak Mampu Bayar ‘Sinamot', Ini yang Dilakukan Pria Batak Dulu)

Maka tidak mengherankan adat Batak buat sebahagian naposo Batak menjadi momok yang menakutkan (mabiar) menikah secara adat Batak.

Tapi tahukah kalian bahwa sesungguhnya adat Batak itu sangat moderat dan menyenangkan semua pihak, bahkan membahagiakan bagi sebagian orang. Adat Batak bisa begitu fleksibel bukan saling memberatkan.

Kok bisa?