Libatkan Musisi Top, Drama Musikal 'Buku Ende' Kembali Digelar

Tuntun Siallagan | Kamis, 27 Oktober 2016 09:10:17

Latihan drama musikal The Story of Buku Ende/istimewa
Latihan drama musikal The Story of Buku Ende/istimewa

Setelah sukses pada tiga kali pementasan, 'The Story of Buku Ende: Hymns from The Batakland (In Choral Drama)' akan kembali digelar.

Drama yang mengambil tema cerita dari naskah lagu-lagu pujian 'Buku Ende' Batak Kristen ini akan digelar di Medan International Convention Center (MICC) Jalan Gagak Hitam, Medan, Sumatera Utara, Sabtu 29 Oktober mendatang. 

Dipentaskan oleh Svara Sacra Choirs, drama musikal karya Rithaony Hutajulu (director) dan Irwansyah Harahap (co-director) ini sedikitnya akan melibatkan 120 orang pemeran. Terdiri dari paduan suara, penyanyi solois profesional, para pelakon drama dan para musisi tradisional (uning-uningan dan gondang sabangunan), serta kelompok orkestra Barat. 

Hutajulu dan Harahap merupakan dosen Fakultas Ilmu Budaya USU dan juga pendiri kelompok Suarasama yang album musiknya telah terbit di Smithsonian Institute USA dan Dragcity, Chicago, Amerika Serikat.  

The Story of Buku Ende/istimewa

Sementara yang bertindak sebagai multimudia designer adalah MJA Nashir, yang merupakan seorang penulis asal Pekalongan dan juga pembuat film tentang ulos berjudul 'Rangsa Ni Tonun'. Dia bekerjasama dengan seorang antropolog asal Belanda bernama Sandra Niessen.   

“Dalam pementasan ‘The Story of Buku Ende’ kali keempat ini, kita kerjakan lebih solid dan lebih matang lagi meski tema dan pesan pementasan tetap sama, yakni dengan memperkaya scenes-scenes pada alur cerita dan ilustrasi visual dengan orkestrasi musik akustis Barat,” ujar Hutajulu lewat siaran pers, Rabu (26/10).

“Kita menginginkan para penonton pertunjukan kali ini medapatkan pesan yang lebih dari pementasan-pementasan sebelumnya,” imbuhnya.

Drama musikal ini juga melibatkan anak-anak muda potensial di dunia orkestrasi musik paduan suara seperti Ken Steven (music conductor) lulusan The Asian Institute for Liturgy and Music Philippines dengan segudang prestasi di antaranya meraih Most Promising Young Conductor pada festival paduan suara internasional 'A Voyage of Songs' tahun 2015 di Penang. Begitu juga dengan 'Orientale Concentus IX tahun 2016 di Singapore'.

Svara Sacra Choirs/istimewa

Horas Simangunsong sebagai choral choach aktif sebagai pelatih paduan suara di kota Medan, membawa paduan suara Clara Belle Choir mendapat gold medal pada kompetisi paduan suara di ITB Bandung dan festival paduan suara AVOS di Penang Malaysia. Sementara Tanaka Manalu adalah sebagai composer/arranger lulusan Institut Seni Yogyakarta.  

Sedangkan yang berperan sebagai solis utama pementasan ini, adalah dua solis ternama di kota Medan, yakni Diana Tobing (soprano solist) dan Ernest Simatupang (tenor solist). Keduanya aktif mengikuti berbagai perlombaan paduan suara tingkat nasional dan internasional dan juga adalah pelatih sejumlah kelompok paduan suara.  

"Kami juga menampilkan bintang-bintang muda berbakat seperti Gok Parasian Malau (pemenang Bintang Radio tingkat Provinsi Sumatera Utara 2013 dan peserta The Voice 2016) dan Niesya Harahap vokalis dan penari muda anggota kelompok Suarasama dan Mataniari yang pernah ikut pentas di New Zealand dan Jerman,” terang Hutajulu.

The Story of Buku Ende/istimewa

Dalam acara tersebut, tidak ketinggalan musisi tradisi legendaris Batak Toba Marsius Sitohang (Si Raja Seruling) yang telah mendapat gelar maestro dari Kemendikbud tahun 2013 dan yang punya pengalaman pertunjukan di Eropa, Amerika dan beberapa negara Asia dan permainan musiknya telah direkam dan diterbitkan di Eropa dan Amerika. 

"Jadi jangan sampai ketinggalan, mungkin harus nunggu setahun lagi untuk bisa menyaksikannya kembali! Dan semoga pentas mendatang mendapat perhatian dan sukses yang besar sebagaimana pentas pertunjukan sebelumnya. Diharapkan juga pentas pertunjukan ini dapat menjadi sebuah inspirasi baru dalam menghadirkan tema-tema sosial-spiritual, khususnya kehidupan masyarakat Batak di tengah masyarakat luas lainnya," kata Hutajulu.

Svara Sacra Choirs

Svara Sacra Choirs terbentuk dari keinginan mengembangkan kreativitas rohani, sosial dan budaya. Berdiri pada Maret 2013 yang dimotori oleh  Donald Tobing dan Victor Lumbanraja, kelompok ini kemudian melibatkan para orang Batak dari berbagai bidang karya, keahlian dan kalangan, khususnya mereka yang berdomisili di Medan.  

Svara Sacra Choirs/istimewa

Cikal bakal dan spirit kebersamaan kelompok ini dimulai sejak tahun 2005 saat menampilkan produksi pertunjukan musik Tribute to Gorga oleh maestro Bonar Gultom pada April 2005 di Medan. Pertunjukan tersebut meraih sukses dan perhatian cukup besar dari berbagai kalangan. Dari momentum tersebutlah Svara Sacra Choirs terbentuk. 

Paduan suara ini ingin memberi kontribusi di dalam mewarnai kehidupan peradaban kemasyarakatan khususnya melalui pendekatan kreatif dalam berkesenian berbasis kekristenan yang dipadu dengan kebatakan, dan mengemban misi melalui kegiatan pembinaan paduan suara, konser, pergelaran, penampilan di berbagai acara untuk pembinaan bagi generasi muda gereja.

SPONSORED
loading...