Ini Orang Barat Pertama yang Injakkan Kaki di Danau Toba

Ester Napitupulu | Senin, 25 April 2016 16:04:00

Neubronner van der Tuuk/blogspot
Neubronner van der Tuuk/blogspot

Butuh lebih dari 80 tahun bagi orang-orang Barat untuk menemukan Danau Toba. Selama masa itu pula, banyak orang Barat menyerah mencari keberadaan danau vulkanis terbesar di dunia ini. Bahkan, ada juga yang terbunuh dalam perjalannya.

Dalam ‘The History of Sumatera’, William Marsden menulis bahwa orang-orang Batak memang sengaja menghalangi setiap orang asing yang berupaya masuk ke Danau Toba.

Tidak hanya menaruh curiga, bahkan mereka sengaja memberi petunjuk yang salah kepada Si Botar Mata (Si Mata Putih), julukan orang Batak terhadap orang-orang Barat.

Dimulai pada 1772 oleh Giles Holloway dan Charles Miller asal Inggris, perjalanan orang Barat menemukan Danau Toba baru membuahkan hasil pada 1853 lewat usaha Neubronner van der Tuuk, seorang sarjana bahasa asal Belanda.

Keberhasilan pria kelahiran Malaka, 24 Oktober 1824 ini menemukan Danau Toba terjadi sepuluh tahun sebelum Nommensen, misionaris Jerman yang dikenal sebagai Bapak Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), masuk Tanah Batak pada 1864.

Keberhasilan Tuuk ini tidak lepas dari perintah Netherlands Bijbelgenootschap (Perkumpulan Injil Belanda) agar ahli bahasa itu masuk ke pedalaman Tanah Batak untuk mempelajari bahasanya. (BACA: Senyum Sikitlah Demi Danau Toba Rasa Eropa)

Tuuk bertugas di lapangan untuk menerjemahkan Bahasa Batak, sehingga Injil bisa terlebih dulu diterjemahkan ke dalam Bahasa Batak, sebelum akhirnya dilakukan penginjilan.

Meski awalnya juga ikut dicurigai seperti pendahulunya, Tuuk akhirnya berhasil merebut kepercayaan penduduk. Modal kepercayaan inilah yang memuluskan perjalanan Tuuk hingga sampai ke Danau Toba.

Pendekar Batak sekitar tahun 1870/blogspot

Sampai ke Lembah Bakkara, tempat Singamangaraja XI yang bernama Ompu Sohahuaon. Maka tak heran dalam laporannya, Tuuk menyebut Singamangaraja XI sebagai ‘Raja dari semua orang Batak.’

Meski ada beberapa penduduk yang tetap menaruh curiga, tetapi pada faktanya Tuuk tetap diterima dan perlakukan baik oleh Singamangaraja XI. Bahkan, sesuai adat, Tuuk disediakan tempat menginap di sopo (rumah lumbung sekaligus balai rapat).

Namun, Tuuk ternyata hanya beberapa hari tinggal di Bakkara, karena dia merasa keamanannya mulai tergganggu. Dalam laporannya, Tuuk menulis rakyat mulai mendesak agar Singamangaraja, sang tuan rumah, untuk mengusirnya.

(BACA: Rimba Ciptaan, ‘Hollywood’ Tano Batak yang Tinggal Kenangan)

Rakyat beralasan, kehadiran Si Bontar Mata telah mengancam keamanan negeri. Hal ini pula yang membuat Tuuk menulis dalam laporannya bahwa dia “hampir dimakan” oleh penduduk setempat.

Menurut Budayawan Batak, Sitor Situmorang, catatan Tuuk bahwa dia “hampir dimakan” hanyalah sebuah prasangka yang timbul dari ancaman penduduk. Terlebih, pengetahuan Tuuk mengenai adat-istiadat Batak masih sangat kurang.

Meski akhirnya terusir, karya ilmiah Tuuk berdasarkan hasil perjalanannya ke pedalaman Tanah Batak telah menjadi dasar penerjemahan Injil ke dalam Bahasa Batak Toba. Disimpan di Universitas Leiden, Belanda, karya Tuuk menjadi sumber penting bagi generasi sekarang untuk mempelajari kebudayaan Batak.

Sebenarnya, bukan hanya Bahasa Batak yang dipelajari Tuuk di Nusantara. Pria yang berpulang pada usia 69 tahun di Surabaya ini juga dikenal sebagai peletak dasar lingustik modern dan penyusun kamus beberapa bahasa lain di Nusantara, seperti Bahasa Melayu, Jawa, Sunda, Toba, Lampung, Kawi (Jawa Kuna), dan Bali.

BACA JUGA
  • DANAU TOBA Jokowi Perlebar Jalan Lingkar Samosir Hingga 14 Meter!

  • DANAU TOBA Pantai Pangkodian, Hamparan Pasir Putih Tersembunyi di Danau Toba

  • DANAU TOBA Hotel di Kawasan Otorita Danau Toba untuk Pasar Kelas Atas

  • DANAU TOBA Ditemukan di Palung Danau Toba, Enjelika Sudah Tak Bernyawa