Ini Makna Ulos Pemberian Masyarakat Batak Humbahas untuk Jokowi

Coky Simanjuntak | Sabtu, 31 Desember 2016 10:12:04

Presiden Jokowi diulosi oleh masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta/antara
Presiden Jokowi diulosi oleh masyarakat adat Pandumaan-Sipituhuta/antara

Masyarakat Batak dari Desa Pandumaan dan Sipituhuta, Kecamatan Pollung, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), sangat senang akhirnya hutan adat mereka seluas 5.172 ha diakui negara.

Sebagai bentuk terima kasih, mereka pun memberikan ulos kepada Presiden Jokowi yang langsung menyampaikan pengakuan hutan adat itu di Istana Negara, Jumat (30/12).

Ketua Perjuangan Masyarakat Pandumaan-Sipituhuta, James Sinambela, menjelaskan ulos yang diberikan kepada sang presiden adalah jenis mangiring, kendati sekilas mirip jenis ragidup.

“Jenis ulos mangiring. Biar Pak Jokowi mengiringi, temani, melindungi kita sebagai masyarakat,” kata James di Istana Negara. 

(BACA: Kain-kain Batak yang Pernah Dipakai Jokowi)

Dia menambahkan, pemberian ulos sebagai ucapan terima kasih karena Presiden Jokowi sangat menghargai masyarakat adat.

“Dan juga telah memberikan SK komunal 5172 hektar sebagai tanah adat. Kan kita sebagai manusia perlu buat terima kasih secara adat. Itu adat istiadat,” ujar James.

(BACA: 4 Bukti Kedekatan Jokowi dengan Orang Batak)

Untuk diketahui pengakuan hutan adat kepada masyarakat Pandumaan-Sipituhuta dan 8 komunitas adat lain adalah yang pertama kali sepanjang sejarah republik alias pecah telor.

‘Pecah telor’ ini berlaku juga untuk sejumlah konflik masyarakat adat Batak melawan PT Toba Pulp Lestari (TPL). Sebab, baru masyarakat Pandumaan-Sipituhuta yang ‘memang’ melawan perusahaan bubur kertas yang menguasai 180 ribu hektar lahan di Tano Batak itu