Ini Alasan Kenapa Orang Batak Suka Bicara Lama Saat Pesta

Chandra Siagian | Rabu, 08 Februari 2017 15:02:34

Ilustrasi Raja Parhata/FB: Pangky Napitupulu
Ilustrasi Raja Parhata/FB: Pangky Napitupulu

Sebab, di samping harus mempunyai kecerdasan memahami arti dan tujuan kata-kata lawan berbicara, Raja Parhata harus memiliki perbendaharaan kata dan juga 'umpama dan umpasa' (pepatah dan perumpamaan) yang cukup serta dapat mematahkan perlawanan pihak lawan bicara.

Setiap perwakilan kelompok atau unsur-unsur Dalihan Na Tolu dalam adat perkawinan masyarakat Batak Toba yang ditunjuk sebagai Raja Parhata harus memiliki pengetahuan atau wawasan yang baik tentang adat khusunya parjambaran.  

Kata-kata atau ucapan yang diberikan oleh Raja Parhata kepada pihak yang berhak memperoleh jambar hata, memiliki makna yang bersifat harapan dan doa restu yang diinginkan bersama. Masyarakat Batak Toba menyampaikan jambar hata dengan menggunakan umpasa dan umpama.

Masyarakat Batak Toba tradisional adalah masyarakat tertutup yang tidak dapat mengatakan sesuatu dengan langsung. Mereka memiliki suatu nilai yang dipegang teguh sehingga untuk mengatakan sesuatu harus dibalut dengan kata-kata yang membuat maknanya tersamar tetapi cukup dimengerti. 

Biasanya masyarakat menggunakan umpama (perumpamaan) dan umpasa (pantun) untuk mengatakan sesuatu kepada seseorang atau kelompok ketika melakukan komunikasi. Namun menurut Jhonson Pardosi dalam Makna Simbolik Umpasa dan Ulos pada Adat Perkawinan Batak Toba (2008), pengertian umpama dan umpasa tidak dapat disamakan seutuhnya dengan perumpamaan dan pantun di dalam kesusastraan Indonesia. 

Lalu, apa bedanya?