'Ilu Na Maraburan' Film Batak tentang Pedihnya Hidup

Tuntun Siallagan | Minggu, 19 Maret 2017 19:03:17

Cover 'Ilu Na Maraburan'/youtube
Cover 'Ilu Na Maraburan'/youtube

Amani Hotma akhirnya meninggal dunia. Begitulah kisah pertengahan dalam film berjudul “Ilu Na Maraburan” yang disutradarai oleh Ponti Gea.

Sebuah adegan pertengahan filim yang baik dan menarik rasa penasaran penonton untuk menyaksikan film tersebut sampai tuntuas.

Di awal kisah, film yang diluncurkan awal Maret 2017 lalu ini memang tidak terlalu jauh dengan cerita-cerita lama yang pernah kita dengar sebelumnya: sebuah keluarga miskin di kampung yang mempunyai tiga orang anak.

(LIHAT VIDEO: Film Kartun Batak Ini Pasti Buat Kalian Terharu)

Karena hasil ladang tidak mencukupi, sementara kebutuhan biaya sekolah anak-anak mendesak, sang ayah pun berencana membuka usaha meskipun modal pertamanya harus dengan cara meminjam kepada orang lain.

Namun, meskipun saya katakan awal film ini sudah bersifat umum, skenario yang ditulis oleh Bonardo Sinaga ini cukup menarik karena dibumbui dengan sebuah karakter keluarga Batak yang kuat.

Sosok ayah yang baik, sosok ibu yang taat beribadah dan maradat. Serta anak-anak pintar yang rajin marsikkola meskipun keadaan ekonomi keluarga pas-pasan.

Dalam film ini, sosok ibu (Nai Hotma) menjadi sentral. Dia begitu tabah menghadapi orang-orang yang dipilih suaminya sebagai rekan bisnis, yang pada akhirnya menghancurkannya. Bahkan, sosok Manukkun— lajang tua yang menjadi penjamin saat Amani Hotma meminjam uang dari Amani Mian, nyaris memperkosanya.

Miris memang. Tapi Nai Hotma tetap tabah dan memilih membawanya ke dalam doa. Lalu, apakah ketabahan Nai Hotma akan tetap untuh untuk menghadapi kehidupan mereka yang barangkali akan lebih buruk di hari yang akan datang?

Di akhir film, ada sebuah kisah mengejutkan yang disajikan kepada penonton.

Apa itu?