Ilmuwan Belanda Ini Sebut Wajah Boru Batak Seperti Wanita Eropa

Ester Napitupulu | Selasa, 07 Juni 2016 23:06:51

Franz Wilhelm Junghuhn (1809–1864)
Franz Wilhelm Junghuhn (1809–1864)

Meskipun tidak ada satu pun misionaris Jerman yang kawin dengan gadis Batak, bukan berarti Boru Ni Raja dipandang sebelah mata. Bagi sebagian misionaris, boru Batak justru mempesona.

Franz Wilhelm Junghuhn, seorang ahli botani Belanda yang membuka jalan bagi para misionaris ke Tanah Batak, menuliskan kesannya terhadap boru Batak.

Dalam 'Die Battaländer auf Sumatra’ (1847), Junghuhn menuliskan, bentuk wajah boru Batak sama dengan wanita Eropa.

"Bentuk muka oval yang dapat disebut sub-Yunani lebih sering dapat ditemukan pada perempuan Toba,” kata Junghuhn yang masuk ke Tanah Batak pada 1841.

Menurutnya, tingkat budaya orang Batak tidak dapat dikatakan rendah walaupun tentu masih jauh dari bangsa-bangsa Eropa. 

"Dari bentuk tengkorak maupun muka tampak bahwa orang Toba yang belum bercampur (dengan bangsa lain) tidak termasuk ras Melayu apalagi ras Mongoloid,” ujarnya.

Tubuh boru Batak, menurut Junghuhn, menunjukkan kemiripan dengan ras hindu-kaukasus (indo-eropa). 

"Muka mereka oval dan harmonis dengan bentuk yang lebih indah daripada orang Melayu,” ucapnya lagi. 

Ilustrasi gadis Batak tempo dulu/kaskus

Warna kulit orang Batak, kata Junghuhn, berwarna coklat dan cenderung menjadi putih. 

“Terutama pada perempuan yang kulitnya biasanya sangat halus sehingga pipinya kelihatan kemerah-merahan,” katanya.

Rambut orang Batak, kata dia, juga tidak hitam. “Melainkan khusus pada perempuan, cokelat tua dan lebih halus daripada rambut orang Melayu atau orang Jawa, hampir seperti sutera,” ujar Junghuhn yang tiba di Jawa pada 1836.

"Tubuhnya berotot dan  proporsi tubuhnya seimbang,” puji Junghuhn lagi.

(BACA: Kenapa Tak Satu pun Misionaris Jerman Kawin dengan Boru Batak?)

Franz Wilhelm Junghuhn (1809–1864) lahir di Mansfeld, Kerajaan Westfalia (sekarang menjadi bagian Jerman). Pada tahun 1834 ia pindah ke Belanda dan pada tahun 1852 Junghuhn memilih menjadi warga negara Belanda. 

Karena ingin ke Hindia-Belanda maka ia mendaftar kepada militer Belanda sebagai dokter tentara. 

Tahun 1836 Junghuhn tiba di Jawa dan pada tahun 1840 ia ditugaskan ke Padang. Di dalam kapal ia bertemu dengan Pieter Merkus, seorang pejabat yang pada tahun 1841 menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda. 

Berkat bakat geologi dan botani Merkus menugaskannya untuk meneliti Tanah Batak yang pada saat itu masih merdeka.