Fashion Jangan Sampai Rusak Kesakralan Ulos

Maruli Simarmata | Kamis, 20 Oktober 2016 13:10:42

Ulos dalam Indonesia Fashion Week 2014/zimblo.com
Ulos dalam Indonesia Fashion Week 2014/zimblo.com

Kain Ulos yang sudah menjadi warisan nasional sedang banyak dikembangkan ke arah fashion. Namun, hendaknya ulos untuk fashion dibedakan dengan ulos yang biasa dipakai untuk ritual adat.

"Jadi, motif yang ditampilkan (untuk fashion) bukan motif Ulos yang digunakan dalam berbagai upacara ritual sehingga tidak merusak konsep sakral dari Ulos itu sendiri,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kemenperin Gati Wibawaningsih melalui keterangan tertulis, belum lama ini.

Karena tidak boleh memotong kain Ulos yang digunakan dalam upacara adat, kata Gati, maka ada baiknya Ulos untuk bahan fashion sudah dipersiapkan sesuai dengan tujuan penggunaan.

Hal ini karena masyarakat Batak masih menggunakan Ulos sebagai kain dengan fungsi simbolik, seperti halnya kegiatan Mangulosi yang melambangkan pemberian restu, kasih sayang, harapan, dan kebaikan lainnya.

Ilustrasi menenun ulos/kemenpar

Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini kain Ulos juga menjadi salah satu produk fashion bernilai seni tinggi, dengan motif khas seperti Gorga atau ukiran rumah khas adat Batak yang dapat memberikan nuansa unik dan keindahan tersendiri.

Ditjen IKM Kemenperin telah memfasilitasi beberapa kegiatan dalam upaya pelestarian Ulos, di antaranya Ulos berpartisipasi melalui peragaan busana.

Salah satunya, hasil rancangan Deden Siswanto selaku desainer nasional yang memadukan Tenun Ulos dengan tren desain internasional pada acara Festival Danau Toba di Pulau Samosir pada 2013.

"Bahkan pada acara Miss World 2013 di Bali, busana tersebut digunakan oleh pembawa acaranya," katanya.

Ilustrasi ulos untuk acara adat/batakgaul

Pada 2014, dilaksanakan pendampingan tenaga ahli dalam pengembangan produk tenun untuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) perajin yang menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) di Tobasa, Sumatera Utara.

Fokus kegiatannya membina perajin ATBM untuk mengenal bahan baku benang yang berkualitas, teknik pewarnaan benang, strategi untuk memasarkan produk, serta pengembangan dan penempatan motif yang sesuai untuk produk busana.

"Kami juga melakukan pembinaan di Kabupaten Samosir, di antaranya melalui pembuatan 'brand' produk tenun Samlos (Samosir Ulos) dan melaksanakan pelatihan produk 'fashion' bagi kelompok penjahit," ujar Gati.

Selain itu, pembinaan di Kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah, dengan melaksanakan pelatihan pembuatan busana bermotif tenun Ulos dan fasilitasi mesin jahit untuk para penjahit di daerah tersebut.

Pada 2015, pengembangan tenun di Sumatera Utara dengan melaksanakan kegiatan seperti partisipasi dalam Pameran Indonesia Fashion Week, yang menampilkan produk tenun Ulos hasil pembinaan dari Tobasa dan Samosir.

Selain itu, pendampingan tenaga ahli tenun di Samosir dan Tobasa untuk meningkatkan keahlian dan kualitas produk tenun.