Cerita Peperangan Aliran Hitam dan Putih di Tano Batak

Tuntun Siallagan | Jumat, 09 Juni 2017 17:06:37

Prajurit Tanah Batak yang menyandang parang dan tombak, sekitar 1870. (Kristen Feilberg/Tropenmuseum)
Prajurit Tanah Batak yang menyandang parang dan tombak, sekitar 1870. (Kristen Feilberg/Tropenmuseum)


Dalam pertarungan itu, Datu Parutiutian membacakan mantranya saat berperang yang berbunyi, “Hutonggo, hutonggo halisungsung marpiupiu, mamboan isi ni tapian namanjurur di tano, sitorngom, sitorngom unang ho tarpodom, imbulu, imbulu, imbulu ni imbulu sirumpakkon najongjong, siripashon natarpodom...”

Usai membacakan mantera tersebut, maka muncullah di udara gumpalan awan hitam menuju sasarannya, yakni Dewa Simarimbulubosi.

Melihat fenomena itu, Dewa Simarimbulubosi pun kemudian melakukan perlawanan. Dia kembali membacakan tonggo dengan suara nyaring berbunyi, “Motung sidua rupa, nabontar nang naratarata, mangullus ma ho alogo, patuduhon hinabontarna mambahen paraloan pasundat tahi ni manisia...”

Maka kemudian muncullah awan putih menyambar gumpalan awan hitam hingga akhirnya sama-sama lenyap.

Itulah salah satu dari sekian banyak pertarungan antara aliran hitam dengan aliran putih. Dewa Simarimbulu bosi kemudian hadir untuk membangun kembali keyakinan orang Batak yang sesungguhnya ketika itu.

Termasuk memperbarui pendidikan yang pada saat itu terlalu mahal untuk menjadi peserta didik, saat kaum hitam hampir menguasai seluruh Tano Batak.